“Proyek ini diharapkan menjadi ikon baru Kota Mentok menuju kota pusaka modern yang berbasis arsip dan sejarah,” ungkap Fahrouk.
Ia menjelaskan, pembangunan kawasan heritage ini juga menjadi langkah strategis untuk mengubah arah ekonomi Mentok yang selama ini bergantung pada tambang timah.
“Kalau timah bisa habis, tapi arsip tidak,” tegas Fahrouk.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan, proyek Klaster Eropa sudah masuk dalam RKPD dan kini sedang dibahas bersama Kementerian PUPR. Nilai anggarannya mencapai miliaran rupiah.
“Program ini bukan sekadar mempercantik kota, tapi menghidupkan kembali identitas Mentok sebagai pusat pengetahuan dan arsip sejarah bangsa,” jelasnya.
Fahrouk menambahkan, Festival Literasi Bangka Barat 2025 ini menjadi simbol kebangkitan baru bagi Kota Mentok. Kota yang dulu dikenal sebagai penghasil timah kini mulai dikenal sebagai kota pengetahuan.
Pemerintah daerah bersama masyarakat, kata Fahrouk, berkomitmen membangun peradaban baru yang tidak lahir dari tanah yang digali, tetapi dari pikiran yang ditulis dan dibaca.
“Kota Mentok sedang menegakkan diri sebagai Pusat Naskah Nusantara. Bukan dengan nostalgia atau seremoni, tapi dengan menghidupkan kembali memori kolektif bangsa,” tutur Fahrouk.
Sementara itu, suasana di lokasi acara terlihat begitu hidup. Anak-anak duduk lesehan di atas rumput sambil membaca buku, remaja berkeliling ke stan literasi, sementara pelaku UMKM sibuk melayani pembeli.
Banyak di antara pedagang kecil mengaku dagangannya ludes terjual dan bahkan mendapat pesanan tambahan selama festival berlangsung.
“Baru kali ini jualan rame banget, nggak nyangka pengunjungnya sebanyak ini,” ujar salah satu pelaku UMKM sambil tersenyum puas.
Festival Literasi 2025 di Kabupaten Bangka Barat tersebut menjadi bukti bahwa literasi bukan hanya kegiatan membaca dan menulis, tetapi juga kekuatan sosial yang mampu menumbuhkan ekonomi, membangun identitas, dan menggerakkan masa depan Mentok. (blv)
















