Sementara itu, Cahyani dari Universitas Mataram mengusulkan adanya dashboard informasi publik yang dapat diakses masyarakat untuk memantau perkembangan penanganan isu nasional. Ia menilai informasi yang tersebar melalui konferensi pers dan pemberitaan belum selalu memudahkan masyarakat untuk mengikuti perkembangan suatu persoalan secara berkelanjutan.
“Jadi, jika ada isu nasional, pemerintah update setiap hari secara real-time. Jadi, setidaknya di situ kita bisa tahu informasinya dan kita bisa akses secara publik bersama masyarakat-masyarakat lainnya,” tutur Cahyani.
Menanggapi usulan tersebut, pihak Bakom menyampaikan bahwa pihaknya tengah merancang dashboard komunikasi pemerintah untuk membantu masyarakat memantau perkembangan isu yang menjadi perhatian publik.
Persoalan kebakaran Karhutla juga disampaikan Khairir Yahya dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Amuntai. Ia menyoroti kondisi kualitas udara di wilayahnya selama Agustus hingga Oktober dan meminta pemerintah mengambil langkah untuk menangani persoalan tersebut melalui koordinasi lintas sektor.
“Di Kalimantan itu kualitas udaranya sudah cukup parah, karena terhitung dari Agustus hingga Oktober lebih dari 170 orang terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sana. Untuk menyelesaikan permasalahan kabupaten, perlu ada penyelesaian dari pemerintah, kita sebagai mahasiswa, dan juga masyarakat,” ujar Khairir.
Melalui rangkaian FLS 2026, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk berdialog langsung dengan pemangku kebijakan serta menyampaikan aspirasi berdasarkan persoalan yang mereka temui dan perhatikan. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan berpikir kritis dan mendorong mahasiswa mengambil peran aktif dalam merespons tantangan di masyarakat.
Sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, Kemdiktisaintek mendorong generasi muda untuk mengembangkan kepemimpinan yang tidak hanya bertumpu pada wawasan dan gagasan, tetapi juga diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi masyarakat.
Herman Yakub.
















