Titin Kurniasih, pelaku UMKM Tugu Suta, mengaku antusias karena mendapat kesempatan berjualan di lokasi yang diprediksi ramai pengunjung.
“Kami akan turun dengan sekitar 12 anggota. Menunya lengkap, ada donat, snack, kue tradisional, minuman, sampai lauk siap santap. Mudah-mudahan bisa jadi pusat takjil terbesar di Mentok,” ucapnya.
Ia menilai konsep sentralisasi bazar akan menguntungkan pedagang maupun pembeli. Warga tidak perlu berpindah-pindah tempat, sementara pelaku UMKM berpeluang meraih omzet lebih stabil.
“Kalau terpusat begini, pembeli pasti lebih ramai. Harapan kami penjualan meningkat dan ekonomi keluarga ikut terbantu selama Ramadan,” katanya.
Apresiasi serupa disampaikan Dewi Apriani, pelaku UMKM Pelite Mentok. Menurutnya, dukungan fasilitas dari PT Timah dan DKUP menjadi angin segar di tengah tantangan usaha kecil.
“Bagi kami ini sangat berarti. Tidak semua UMKM punya tempat strategis untuk jualan. Dengan difasilitasi seperti ini, kami merasa diperhatikan dan punya kesempatan berkembang,” tuturnya.
PT Timah sendiri memandang program ini sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekitar wilayah operasional.
Kehadiran sentra takjil di eks Lapangan Golf diharapkan tak hanya menjadi ruang transaksi, tetapi juga titik temu warga selama Ramadan, tempat berburu menu berbuka, bersilaturahmi, sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal.
Dengan persiapan yang matang dan kolaborasi banyak pihak, Bazar Ramadan Mentok diproyeksikan menjadi magnet baru aktivitas masyarakat Bangka Barat sepanjang bulan suci tahun ini. (*)










