Rencana PLTN di Bangka Belitung: Antara Energi Bersih dan Ancaman Ekologi
SEKILASINDONEWS.COM – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Bangka Belitung kembali memantik perdebatan tajam.
Di satu sisi, nuklir dipromosikan sebagai jalan cepat menuju energi rendah karbon.
Di sisi lain, masyarakat pesisir melihat bayang-bayang ancaman terhadap laut yang selama puluhan tahun menjadi sumber hidup mereka.
Perdebatan itu mengemuka dalam diskusi publik bertema “Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung: Diskusi Data dan Fakta” yang berlangsung di Pangkal Pinang, Sabtu (7/2/2026).
Forum tersebut mempertemukan akademisi, pengembang teknologi, pemerintah daerah, dan warga dalam dialog terbuka yang sarat argumentasi.
Sejak isu PLTN mencuat, Bangka Belitung seolah berada di persimpangan jalan. Provinsi kepulauan ini dikenal dengan perikanan, pariwisata bahari, dan ekosistem pesisir yang rentan.
Kehadiran proyek nuklir dikhawatirkan membawa konsekuensi panjang yang tak mudah dipulihkan.
Pemateri analisis dampak lingkungan, Dr. Ahmad Nahwani, menegaskan bahwa teknologi nuklir memang menawarkan emisi karbon rendah, tetapi bukan tanpa risiko.
“Keunggulan nuklir tidak boleh menutup mata terhadap potensi dampaknya. Evaluasi tapak harus menjadi fondasi utama sebelum bicara tahap berikutnya. Di wilayah pesisir, analisisnya jauh lebih kompleks,” ujarnya.
Menurut Ahmad, kajian tidak cukup hanya menghitung kebutuhan listrik nasional. Harus ada pemetaan menyeluruh terhadap arus laut, perubahan suhu perairan, kemungkinan gangguan terumbu karang, hingga dampak jangka panjang terhadap rantai pangan.
“Bangka Belitung bukan ruang kosong. Ada nelayan, ada ekosistem, ada ekonomi lokal yang sangat bergantung pada kualitas laut,” katanya.
Suara kegelisahan datang langsung dari peserta yang mewakili komunitas pesisir. Mereka mempertanyakan jaminan keselamatan jika PLTN benar-benar berdiri.
“Kami hidup dari laut, menyekolahkan anak dari hasil melaut. Kalau terjadi apa-apa, siapa yang bertanggung jawab? Dampaknya bukan sebentar, bisa seumur hidup,” ujar seorang nelayan dalam sesi dialog.
Nada serupa disampaikan Ir. M. Natsir, pemateri perspektif sosial. Ia menilai proyek energi sebesar PLTN tak boleh hanya dilihat dari kacamata teknologi.
“Transisi energi harus adil. Jangan sampai masyarakat lokal hanya kebagian risikonya, sementara manfaat ekonominya dinikmati segelintir pihak,” tegasnya.



















