Natsir menekankan partisipasi publik tidak boleh sekadar formalitas. Warga harus dilibatkan sejak tahap awal, memiliki akses informasi, serta hak untuk menyetujui atau menolak berdasarkan pengetahuan yang utuh.
“Tanpa kepercayaan sosial, proyek apa pun akan rapuh, seberapa canggih pun teknologinya,” kata dia.
Dari sisi kesiapan sumber daya manusia, Dr. Agus Puji Prasetyono mengingatkan bahwa PLTN menuntut standar disiplin yang tak bisa ditawar.
“Nuklir membutuhkan budaya keselamatan berlapis, operator yang sangat terlatih, dan pengawasan independen. Ini bukan proyek yang bisa dikelola dengan mental proyek biasa,” ujarnya.
Ia menyoroti pentingnya kedaulatan pengetahuan. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pasar teknologi tanpa menguasai kompetensi inti.
“Kalau SDM kita belum siap, ketergantungan pada tenaga asing akan sangat besar. Itu berbahaya untuk jangka panjang,” tambahnya.
Sementara itu, Andri Yanto dari Thorcon Indonesia menjelaskan bahwa rencana PLTN di Bangka Belitung masih berada pada tahap awal.
“Saat ini yang dilakukan adalah studi kelayakan dan evaluasi tapak. Belum ada keputusan pembangunan. Jika ditemukan risiko yang tidak dapat diterima, proyek tidak akan dilanjutkan,” katanya.
Ia mengeklaim teknologi yang ditawarkan mengedepankan keselamatan pasif dan belajar dari pengalaman kecelakaan nuklir di berbagai negara.
Namun jaminan tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran publik. Sejumlah akademisi menilai Indonesia belum memiliki rekam jejak panjang dalam mengelola teknologi berisiko tinggi seperti nuklir.
“Nuklir menuntut negara yang disiplin, transparan, dan kuat secara institusi. Tanpa itu, risikonya terlalu mahal,” ujar seorang pengamat kebijakan energi.
Perdebatan PLTN di Bangka Belitung pada akhirnya bukan sekadar soal memilih sumber listrik. Ia menyentuh pertanyaan mendasar: seberapa jauh bangsa ini berani mengambil risiko atas nama pembangunan?
Bagi warga pesisir, jawabannya sederhana. Laut adalah masa depan yang tak boleh digadaikan.
“Energi boleh berganti, tapi hidup kami jangan jadi taruhan,” kata seorang ibu nelayan menutup diskusi.
Hingga kini, rencana PLTN masih berada di meja kajian. Namun gelombang pertanyaan dari publik terus membesar. Bangka Belitung sedang menulis bab penting: apakah energi bersih bisa berjalan seiring dengan keselamatan ekologi, atau justru membuka luka baru di tanah kepulauan. (Belva)


















