“Kendala terbesar adalah pasang-surut laut serta kepadatan di Pelabuhan Tanjung Api-Api, Sumatera Selatan. Dalam kondisi tertentu, waktu efektif pelayaran hanya dua hingga tiga jam. Ini bukan soal kekurangan kapal, melainkan bagaimana kita mengelola ritme alam dan arus kendaraan,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas provinsi agar distribusi kendaraan dan penumpang dapat diatur lebih seimbang, sehingga antrean panjang dapat ditekan.
Selain memastikan kesiapan teknis, Gubernur Hidayat Arsani juga menaruh perhatian pada aspek keselamatan pengguna jasa penyeberangan.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan, memastikan kendaraan dalam keadaan laik jalan, serta mematuhi arahan petugas di lapangan.
“Kami ingin masyarakat melakukan perjalanan dengan aman dan nyaman. Seluruh kapal telah dilengkapi alat keselamatan. Tinggal bagaimana kita bersama-sama tertib dan patuh agar semua sampai tujuan dengan selamat,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Bangka Barat Markus menegaskan bahwa peninjauan tersebut mencerminkan sinergi kuat antara pemerintah provinsi dan kabupaten dalam menjaga kualitas pelayanan publik.
“Kami memastikan langsung bahwa layanan ASDP di Tanjung Kalian berjalan lancar. Kehadiran Pak Gubernur menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam memastikan transportasi laut tetap aman, tertib, dan terkendali,” kata Markus.
Markus menjelaskan, sebagai langkah jangka menengah, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat telah merencanakan pembangunan satu dermaga tambahan (trestle) pada 2026 guna mempercepat proses bongkar muat dan mengurangi antrean kendaraan di pelabuhan.
“Dermaga tambahan ini diharapkan menjadi solusi konkret untuk meningkatkan kapasitas layanan dan kenyamanan masyarakat,” pungkasnya. (*)














