Dari sisi operasional, lanjut Kurnia, pemerintah untuk pertama kalinya menghadirkan Embarkasi Yogyakarta tanpa asrama haji. Selain itu, pemerintah juga menambah satu embarkasi baru yang melayani program fast track, yakni Embarkasi Makassar, guna mempercepat proses keimigrasian jemaah.
Pada kesempatan itu, Kurnia mengatakan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) juga menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi petugas haji dengan kurikulum yang mencakup kesiapan fisik dan mental, kompetensi pelayanan, kerja sama tim, serta pembekalan dasar fikih haji dan bahasa Arab.
Tak hanya itu, persiapan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini diselesaikan lebih awal. Langkah tersebut meliputi penyediaan akomodasi, konsumsi, transportasi, layanan di kawasan masyair (Arafah, Muzdalifah dan Mina), hingga penyelesaian proses visa bagi jemaah.
“Kemenhaj juga menghadirkan layanan dua syarikah, disertai pembagian dan aktivasi kartu Nusuk langsung di embarkasi,” ujar Kurnia.
Dalam aspek transformasi layanan, Kurnia menambahkan, Kemenhaj turut memperkuat digitalisasi penyelenggaraan haji. Sistem digital dimanfaatkan untuk mengontrol distribusi katering secara lebih efektif serta melacak lokasi petugas di lapangan, sehingga pelayanan kepada jemaah dapat berlangsung lebih cepat, tepat, dan terpantau secara real time.
Herman Yakub.
















