Perbaikan dilakukan dengan metode tambal sulam darurat agar jalan tetap bisa dilalui. Warga menyadari langkah ini bukan solusi permanen, namun dianggap mendesak untuk mencegah jatuhnya korban sambil menunggu perhatian pemerintah daerah.
Secara kewenangan, ruas jalan penghubung Desa Kacung dan Dusun Baginda itu merupakan akses jalan kabupaten, sehingga tanggung jawab perbaikan sepenuhnya berada di tangan Pemerintah Kabupaten Bangka Barat.
Namun hingga kini, warga menilai belum ada realisasi perbaikan menyeluruh dari pemerintah setempat, meski kondisi jalan telah lama dikeluhkan oleh masyarakat di wilayah tersebut.
“Yang kami takutkan itu kecelakaan, terutama anak-anak sekolah dan warga yang ke kebun. Kalau pemerintah belum bisa memperbaiki, kami jaga dulu keselamatan kami sendiri,” ujar Acai.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan dan melakukan perbaikan permanen. Mereka menegaskan gotong royong tidak seharusnya menjadi solusi jangka panjang atas infrastruktur publik yang menjadi kewenangan negara.
“Swadaya ini hanya sementara. Kami butuh perhatian dan tindakan nyata, bukan sekadar janji,” kata seorang warga di lokasi.
Aksi gotong royong di Desa Kacung menjadi potret nyata bagaimana masyarakat terpaksa mengambil alih peran negara demi keselamatan bersama. Jalan ditambal dengan tenaga dan dana pribadi warga, sementara harapan terhadap perbaikan permanen dari pemerintah daerah masih terus dinantikan. (Belva)
















