Camat Tempilang Rusian menyebut antusiasme warga menjadi bukti bahwa operasi pasar murah memang dibutuhkan.
Ia berharap kegiatan serupa bisa dilakukan lebih sering, tidak hanya saat momen tertentu.
“Ini bentuk kehadiran negara di tengah masyarakat. Selain membantu warga, kegiatan ini juga efektif menekan potensi kenaikan harga di tingkat pedagang,” ujarnya.
DKUP Bangka Barat menggandeng distributor resmi dan pelaku usaha lokal untuk memangkas rantai distribusi.
Skema tersebut dinilai mampu menahan praktik spekulasi harga yang kerap muncul saat permintaan meningkat.
Kepala DKUP Bangka Barat Miwani menegaskan pihaknya akan terus memantau pergerakan harga hingga puncak pelaksanaan Sedekah Ruah pada 8 Februari mendatang.
“Kami ingin memastikan tradisi masyarakat tetap berjalan, tanpa membebani ekonomi keluarga. Jika diperlukan, operasi pasar tambahan akan kembali digelar,” katanya.
Sedekah Ruah bagi masyarakat Tempilang bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang perjumpaan sosial yang menggerakkan ekonomi kampung.
Karena itu, stabilitas harga bahan pokok menjadi kunci agar perayaan berlangsung khidmat tanpa menyisakan kegelisahan.
Melalui operasi pasar murah, DKUP Bangka Barat mencoba menjembatani dua kepentingan sekaligus: menjaga inflasi tetap terkendali dan memastikan dapur warga tetap mengepul. Di titik itulah kebijakan publik menemukan maknanya yang paling nyata. (Belva)














