Capaian itu lahir dari kolaborasi pemerintah, petugas haji, Arab Saudi, dan berbagai pihak.
Menurut Qodari, capaian tersebut menunjukkan bahwa pembenahan pelayanan telah memberikan dampak nyata. Namun, pemerintah tidak menjadikan hasil survei sebagai alasan untuk berhenti berbenah.
“Ibadah haji bukan sekadar perjalanan ke Tanah Suci. Di baliknya ada tanggung jawab besar untuk memastikan setiap jemaah dapat beribadah dengan aman, nyaman, sehat, dan khusyuk,” ujarnya.
Evaluasi akan terus dilakukan, terutama untuk memperbaiki layanan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina serta memperkuat kesiapan kesehatan jemaah sebelum keberangkatan.
Qodari menambahkan, hasil survei tersebut menjadi pijakan penting bagi pemerintah untuk melanjutkan transformasi penyelenggaraan haji.
Apalagi, 2026 menjadi momentum penting sebagai penyelenggaraan haji pertama oleh Kementerian Haji dan Umrah.
“Setiap angka adalah masukan dari jemaah, dan setiap masukan adalah dasar untuk menghadirkan pelayanan haji yang semakin baik,” kata Qodari.
Herman Yakub.
















