Akses sementara tersebut menjaga arus lalu lintas tetap berjalan, meski penggunaannya memerlukan pengaturan kendaraan secara bergantian sehingga antrean masih terjadi ketika volume lalu lintas meningkat.
Jembatan permanen yang kini beroperasi memiliki panjang 149,7 meter dengan struktur baja girder. Pembangunannya dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh sebagai bagian dari penanganan permanen infrastruktur strategis pascabencana.
“Untuk memulihkan kembali jalur logistik, kita bangun Jembatan Krueng Tingkeum Kutablang ini. Secara teknis, desain dan konstruksinya sudah dijaga rekan-rekan BPJN Aceh terkait mutu dan sudah diuji beban,” kata Direktur Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum Gatot Sukmana.
Setelah lalu lintas dialihkan ke jembatan baru, pemerintah akan melanjutkan perbaikan jembatan lama yang sebelumnya tersambung dengan struktur Bailey. Penanganan tersebut diperlukan untuk memperkuat kapasitas dan keandalan jalur nasional Banda Aceh–Medan dalam jangka panjang.
Kolaborasi lintas instansi memastikan konektivitas tetap terjaga sejak tahap penanganan darurat hingga jembatan permanen dapat dioperasikan.
Kembali beroperasinya Jembatan Krueng Tingkeum menandai peralihan dari penanganan sementara menuju pemulihan permanen. Selain memberikan kepastian perjalanan bagi masyarakat, akses tersebut diharapkan memperkuat arus perdagangan dan mempercepat kebangkitan ekonomi wilayah terdampak.
Herman Yakub.
















