Di bagian depan mobil itu tertulis kalimat yang kini terasa begitu bermakna: “I Love You Full Bangka Belitung.”
“Saya mohon pamit dan undur diri. Salam hangat untuk masyarakat Bangka Belitung. Semoga Bangka Belitung semakin sejahtera,” tuturnya di hadapan jajaran Polda dan masyarakat yang menatapnya pergi dengan mata berkaca-kaca.
Langkah sederhana namun penuh makna itulah yang membuat sosok Irjen Pol Hendro Pandowo sulit dilupakan oleh masyarakat maupun jajaran.
Salah satu yang tak mampu menahan air mata adalah Bani, pedagang pempek yang saban hari berjualan di depan Mapolda. Ia masih ingat betul bagaimana sang jenderal pernah membelikan motor baru untuknya setelah motor dagangannya hilang.
“Waktu motor saya hilang, beliau pernah kasih saya motor, supaya saya bisa terus jualan. Saya enggak akan pernah lupa atas kebaikan yang diberikan beliau kepada saya,” kenang Bani dengan nada lirih.
“Saya cuma bisa kirim doa terbaik buat beliau. Semoga Pak Hendro berserta keluarga terus diberkahi rezeki dan tetap jadi orang baik,” sambungnya.
Selama menjabat, Irjen Hendro dikenal kerap memborong dagangan warga untuk dibagikan kepada anggota, tahanan, bahkan anak yatim piatu. Sifatnya yang rendah hati dan senyum yang tak pernah lepas membuat banyak orang merasa dekat tanpa jarak.
“Meski pangkat dan jabatan beliau tinggi, tapi beliau tetap sederhana dan rendah hati. Beliau itu dekat dengan siapa pun, dan selalu senyum. Kami kehilangan figur seperti Irjen Pol Hendro Pandowo,” ucap seorang warga lain yang turut hadir melepasnya.
Kini, tongkat kepemimpinan Polda Kepulauan Bangka Belitung resmi berpindah ke tangan Irjen Pol Viktor T. Sihombing.
Namun bagi masyarakat Bangka Belitung, nama Irjen Pol Hendro Pandowo akan selalu diingat, bukan hanya sebagai seorang pemimpin yang tegas, tapi juga sebagai sosok jenderal yang tulus dan benar-benar hadir di tengah masyarakat. (*)
















