Scroll untuk baca artikel
Pasang Iklan
Uncategorized

Jeritan Nelayan Tanjung Ular dan Perlawanan Pesisir Menjaga Ruang Kehidupan dari Tambang Ilegal

×

Jeritan Nelayan Tanjung Ular dan Perlawanan Pesisir Menjaga Ruang Kehidupan dari Tambang Ilegal

Sebarkan artikel ini
Jeritan Nelayan Tanjung Ular dan Perlawanan Pesisir Menjaga Ruang Kehidupan dari Tambang Ilegal

Dalam surat yang dikutip sejumlah media lokal, pemerintah desa menyampaikan kekhawatiran terhadap kerusakan ekosistem laut dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat nelayan.

“Dasar laut rusak, tempat tinggal ikan hancur dan masyarakat semakin sulit mencari nafkah,” demikian isi laporan tersebut.

Bagi masyarakat Air Putih, laut bukan sekadar kawasan ekonomi.

Laut adalah ruang budaya, ruang sosial, sekaligus warisan hidup yang dijaga lintas generasi.

Anak-anak pesisir tumbuh dengan mengenal laut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka belajar membaca arah angin, mengenal musim ikan hingga memahami arus laut dari orang tua mereka.

Namun ketika wilayah tangkap mulai dipenuhi ponton tambang ilegal, hubungan masyarakat dengan laut perlahan berubah.

“Sekarang kami melaut selalu waswas,” ujar seorang nelayan.

Sejumlah penelitian akademik sebelumnya telah mengingatkan dampak ekologis tambang timah laut terhadap ekosistem pesisir Bangka Belitung.

Kajian dari Universitas Bangka Belitung menyebut aktivitas tambang inkonvensional di laut dapat merusak habitat biota laut, meningkatkan sedimentasi perairan dan menurunkan hasil tangkapan nelayan tradisional.

Kerusakan dasar laut akibat penyedotan pasir timah dinilai mengganggu rantai ekosistem, terutama di wilayah habitat ikan dan area berkembang biak biota laut.

Dalam jangka panjang, kondisi itu dikhawatirkan tidak hanya memukul ekonomi nelayan, tetapi juga mengancam keberlanjutan sumber daya pesisir Bangka Belitung.

Selain itu, aparat sebelumnya juga menggagalkan penyelundupan lebih dari 1,2 ton timah ilegal di kawasan Pelabuhan Tanjung Kalian, Mentok, pada awal Mei 2026.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas tambang ilegal di Bangka Barat diduga terhubung dengan rantai distribusi timah yang lebih luas.

Di tengah situasi yang terus memanas, nelayan Tanjung Ular sebenarnya tidak menuntut banyak.

Mereka hanya ingin ruang tangkap mereka tetap aman.

“Kami tidak cari ribut. Kami cuma ingin bisa melaut tenang seperti dulu,” ujar seorang nelayan.

Menjelang malam, beberapa perahu nelayan mulai kembali ke bibir pantai Air Putih. Sebagian membawa hasil tangkapan yang tak seberapa. Di kejauhan, lampu ponton masih menyala terang di tengah laut.

Pemandangan itu menjadi simbol perubahan besar yang sedang berlangsung di pesisir Bangka Barat.

Di satu sisi, sebagian masyarakat memilih tambang sebagai jalan bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi.

Namun di sisi lain, nelayan tradisional merasa perlahan kehilangan laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka.

Konflik di Tanjung Ular pada akhirnya bukan sekadar tentang tambang ilegal.

Ia adalah cerita tentang perebutan ruang hidup masyarakat pesisir.

Tentang bagaimana kelompok kecil yang sepenuhnya bergantung pada laut harus menghadapi tekanan eksploitasi sumber daya yang terus bergerak mendekati wilayah tangkap mereka.

Di tengah suara mesin ponton yang terus meraung setiap malam, nelayan kecil di Air Putih hanya berharap satu hal:

Laut mereka tidak hilang sebelum negara benar-benar hadir melindungi mereka.

Pasang Iklan
Akses Terus Biar Update
Iduladha PWI Bangka Selatan Iduladha Pemkab Basel Iduladha DPRD Basel