Menurut dia, kondisi tersebut menjadi semakin berat ketika bencana terjadi. Selain jumlah tenaga medis yang terbatas, warga tersebar di wilayah yang berjauhan sehingga proses evakuasi maupun rujukan pasien membutuhkan waktu.
“Bayangkan, 5.774 dilayani oleh satu dokter, 15 perawat. Pada saat kondisi bencana, bagaimana? Kemudian tersebar, jauh-jauh. Bagaimana untuk kita menyelamatkan nyawa?” katanya.
Fernando menegaskan kebutuhan transportasi udara bukan sekadar persoalan memperpendek perjalanan. Dalam situasi darurat, waktu tempuh berkaitan langsung dengan keselamatan pasien.
“Ini kita bukan bicara apa. Ini nyawa. Orang yang tidak paham, orang yang tidak ada di situasi itu mungkin pikir bahwa kita omong kosong. Tapi kalau mereka yang menghadapi situasi begini, ini sangat-sangat kita butuhkan,” tegasnya.
Karena itu, Fernando berharap gagasan Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah pusat mengenai penyediaan ambulans udara dapat direalisasikan, terutama untuk daerah kepulauan, wilayah terpencil, serta kawasan yang memiliki keterbatasan akses menuju fasilitas kesehatan rujukan.
Keberadaan ambulans udara dinilai dapat mempercepat evakuasi pasien dalam kondisi kritis sekaligus mendukung mobilitas tenaga kesehatan, obat-obatan, dan kebutuhan medis ketika jalur transportasi reguler sulit digunakan.
“Jadi itu kita berharap. Ini Bapak Presiden, Pemerintah Pusat, rencana ambulans udara. Kami di wilayah kepulauan ini sangat butuh. Mungkin orang di tempat lain tidak butuh. Tapi kami di tempat ini sangat membutuhkan. Dan saya yakin di seluruh wilayah Indonesia pasti butuh,” pungkas Fernando.
Herman Yakub.














