Scroll untuk baca artikel
Pasang Iklan
BeritaNasional

Kualitas Jadi Penentu, Ini Alasan Harga Biji Timah Berbeda di Kalangan Penambang

×

Kualitas Jadi Penentu, Ini Alasan Harga Biji Timah Berbeda di Kalangan Penambang

Sebarkan artikel ini
Kualitas Jadi Penentu, Ini Alasan Harga Biji Timah Berbeda di Kalangan Penambang
Foto: ilustrasi

“Kerja di laut ini tergantung rezeki, tergantung cuaca juga. Kadang dapat banyak, kadang enggak sampai Rp150.000 sehari,” ujarnya.

Berbeda dengan Awan, Faisal, penambang di kawasan Rebo, Sungailiat, mengaku harga timah di wilayahnya kini stabil di kisaran Rp160.000 hingga Rp170.000 per kilogram. Ia menyebut biji timah yang dihasilkan dari tambangnya dinilai lebih baik karena kadar Sn-nya lebih tinggi.

“Kalau timah saya dibeli Rp160.000, sudah beberapa minggu stabil. Saya bermitra dengan PT Timah, jadi lebih tenang,” ujar Faisal.

Dengan harga tersebut, Faisal mengaku bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga dan bahkan menyisihkan sebagian untuk tabungan.

“Kalau harga stabil begini, cukup untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan bisa buat beli mainan anak,” katanya sambil tersenyum.

Meski begitu, Faisal tetap berharap harga bisa naik hingga Rp200.000 per kilogram, agar penambang semakin termotivasi untuk menjaga kualitas hasil tambang.

“Kalau bisa naik sampai Rp200.000 pasti lebih semangat. Tapi memang tergantung kadar dan hasilnya juga. Kadang dapat timah kuning, harganya lebih rendah,” ujarnya.

Dalam praktiknya, kadar timah dalam bijih yang dihasilkan penambang rakyat sangat bervariasi. Faktor seperti metode penambangan, lokasi, jenis tanah, serta proses pencucian berpengaruh besar terhadap kadar logam yang dihasilkan.

Bijih dengan kadar Sn tinggi tentu memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding bijih berkadar rendah. Selain itu, kebersihan material dan kadar pengotor seperti pasir atau mineral lain juga menjadi pertimbangan perusahaan mitra dalam menentukan harga.

Semakin bersih dan murni hasil bijih timah, semakin tinggi pula nilai kompensasi yang bisa diberikan oleh perusahaan.

Perbedaan harga timah di lapangan, bukan bentuk ketidakseimbangan pasar, melainkan konsekuensi logis dari perbedaan kualitas bijih yang dihasilkan setiap penambang.

Dengan sistem penilaian yang transparan dan berbasis kualitas, diharapkan penambang rakyat dapat terus meningkatkan mutu hasil tambang mereka agar mendapatkan nilai imbal yang lebih baik di masa mendatang. (*)

Pasang Iklan
Akses Terus Biar Update
Iduladha PWI Bangka Selatan Iduladha Pemkab Basel Iduladha DPRD Basel