Nelayan senior Desa Belo Laut juga mengaku khawatir dengan perubahan garis pantai yang semakin mendekat akibat aktivitas tambang.
“Dulu air laut masih jauh dari darat, sekarang sudah makin dekat. Kalau dibiarkan, dermaga bisa hilang,” ujarnya.
Selain para nelayan, para ibu rumah tangga pun ikut menyuarakan kekhawatiran mereka.
“Kalau talut runtuh, suami kami mau sandar di mana? Kami tidak mau laut rusak,” kata seorang ibu nelayan.
Bhabinkamtibmas yang turut menginisiasi pemasangan spanduk menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar larangan, melainkan bentuk edukasi kepada masyarakat.
“Spanduk ini bukan ancaman, tapi pengingat. Kita ingin masyarakat sadar bahwa menjaga laut ini bukan tugas pemerintah semata, tapi tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Pemasangan spanduk ini juga menjadi simbol kesatuan masyarakat Belo Laut yang sebelumnya sempat terbelah oleh pro dan kontra tambang.
Kini, warga sepakat bersatu menolak aktivitas tambang di kawasan pesisir yang mengancam mata pencaharian nelayan dan keseimbangan ekosistem laut.
Tidak ada seremoni besar di akhir kegiatan itu. Hanya suara angin laut yang mengibaskan ujung spanduk putih di antara pohon kelapa.
Namun, bagi warga Belo Laut, spanduk itu lebih dari sekadar kain bertuliskan larangan, tapi simbol kesadaran dan keberanian untuk menjaga laut mereka sendiri. (*)


















