Dalam kesempatan yang sama, politisi Fraksi Gerindra di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia itu juga menyoroti pentingnya efisiensi pembangunan rumah pascabencana.
Ia mendorong pemanfaatan sumber daya lokal yang tersedia di lokasi terdampak, seperti kayu gelondongan yang terbawa arus banjir, agar tidak menjadi limbah dan dapat digunakan sebagai material bangunan.
“Mungkin diperlukan diskresi terkait pemanfaatan kayu-kayu gelondongan tersebut agar dapat difungsikan untuk pembangunan rumah sehingga mampu menekan pembiayaan, baik dari APBN maupun CSR,” jelasnya.
Lebih lanjut, Andi menekankan peran krusial Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dalam memberikan peringatan dini kepada masyarakat dan pemerintah daerah.
Ia mengingatkan bahwa musim penghujan baru memasuki tahap awal sehingga potensi bencana susulan masih cukup tinggi.
“Kami terus meminta BMKG untuk memberikan early warning kepada masyarakat dan pemerintah daerah agar risiko bencana susulan dapat diantisipasi dengan lebih baik,” tegasnya.
Redaksi.
















