Di tengah suasana pelantikan, sempat terlihat beberapa kepala sekolah menggunakan ponsel saat sambutan berlangsung. Namun Markus menanggapinya dengan santai.
“Mungkin lagi foto-foto. Saya rasa tidak perlu mengajari lagi. Guru-guru ini kan sudah terdidik,” ucapnya sambil tersenyum.
Respons singkat itu mencerminkan sikap yang tidak berlarut pada hal kecil, tetapi tetap menjaga fokus pada tujuan utama: kemajuan pendidikan.
Di balik barisan kepala sekolah yang dilantik, tersimpan beragam perjalanan. Ada yang telah puluhan tahun mengabdi di sekolah pelosok, ada yang baru pertama kali memimpin, hingga mereka yang akhirnya mendapat kepercayaan setelah lama menjadi pelaksana tugas.
Kini mereka berdiri di titik yang sama, mengemban harapan orang tua, masa depan siswa, dan kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan.
Sumpah jabatan yang diucapkan hari itu bukan sekadar formalitas. Yang berpindah bukan hanya posisi, tetapi tanggung jawab panjang yang hasilnya tak bisa diukur dalam waktu singkat.
Pendidikan bukan proyek instan. Dampaknya baru terasa bertahun-tahun kemudian, saat siswa tumbuh, kualitas sumber daya manusia meningkat, dan daerah perlahan bergerak maju.
Markus tampaknya memahami hal itu. Ia tidak menjanjikan hasil cepat, melainkan menanam arah.
“Selamat bekerja dan berkarya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan kekuatan dalam mengemban tugas mulia ini,” tutupnya. (belva)














