Ketupat yang ditarik bersama-sama itu menjadi simbol pelepasan bala dan permohonan keselamatan.
Muhammad Muhidin, tokoh masyarakat setempat, menjelaskan makna tradisi tersebut.
“Saat memasuki bulan Safar ini dipercaya bala atau musibah turun, terutama yang berkaitan dengan aktivitas melaut. Maka digelar tradisi Rebo Kasan sebagai bentuk doa menolak bala,” jelasnya.
Ia menambahkan, musibah yang dikhawatirkan warga biasanya berupa kecelakaan atau halangan saat melaut.
Rangkaian kegiatan berlangsung meriah dengan berbagai pertunjukan seni, mulai dari tari sambut, doa tolak bala, sambutan resmi, hingga tari kreasi dan musik dambus Cahaya Pesisir.
Acara ditutup dengan hiburan rakyat yang melibatkan partisipasi masyarakat secara luas.
Dengan kehadiran Bupati Markus yang memberi dukungan penuh, tradisi Rebo Kasan tidak hanya menjadi warisan budaya spiritual masyarakat pesisir, tetapi juga semakin diakui sebagai potensi wisata budaya yang mampu memperkuat citra Bangka Barat di tingkat regional maupun nasional. (blv)
















