Scroll untuk baca artikel
Pasang Iklan
BeritaKab. Bangka Barat

Mengali Makna Seni, Budaya, dan Taruhan Masa Depan Mentok

×

Mengali Makna Seni, Budaya, dan Taruhan Masa Depan Mentok

Sebarkan artikel ini
Mengali Makna Seni, Budaya, dan Taruhan Masa Depan Mentok

“Kami hanya dipuji-puji saat festival, tapi selesai acara, pemerintah jarang menindaklanjuti,” kata seorang seniman lokal yang enggan disebut namanya.

Investigasi menemukan data menarik: menurut dokumen Masterplan Kota Pusaka Mentok 2020–2040, terdiri bangunan tua terbagi atas.

Cluster cina, cluster eropa dan cluster Melayu kini dalam kondisi rusak atau terancam hilang, sehingga harus ada langkah nyata mempertahankan makna kota pusaka mentok.

Di sisi lain, festival budaya seperti MAF hanya mendapat alokasi dana kurang dari APBD bidang kebudayaan Bangka Barat. Artinya, keberlangsungan acara ini masih bergantung pada swadaya masyarakat.

Pertanyaan besar muncul: Apakah festival ini hanya akan menjadi perayaan sesaat, atau bisa menjadi alat strategis menyelamatkan kota tua Mentok?

MAF memang digagas komunitas, tetapi tak lepas dari perhatian pejabat daerah. Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yusderahman, menyebut festival ini penting bagi identitas kota.

“Sebuah kota tanpa budaya hanyalah kumpulan batu bata. Mentok harus hidup dengan seni,” ujarnya dalam pidato pembukaan.

Namun investigasi kami menunjukkan, dukungan pemerintah masih lebih banyak bersifat simbolis ketimbang struktural.

Tidak ada regulasi khusus yang menjadikan MAF sebagai agenda tahunan resmi daerah, sehingga kontinuitasnya rawan tergantung pada inisiatif komunitas.

Seorang anggota DPRD yang kami hubungi enggan disebutkan namanya bahkan menyebut, “Selama ini festival lebih banyak jadi panggung pencitraan. Kalau bicara anggaran, jujur saja, tidak ada prioritas.”

Jika ditarik benang merah, investigasi ini menemukan bahwa makna terdalam seni budaya di Mentok adalah perlawanan identitas.

Ia melawan lupa: mengingatkan generasi baru akan pusaka kota.

Ia melawan bisu: memberi suara pada masyarakat yang tak punya ruang di forum formal.

Ia melawan mati: memastikan Mentok bukan hanya kota tua, tapi kota yang hidup.

“Tanda Bicara” bukan sekadar tema festival. Ia adalah pernyataan bahwa seni adalah bahasa alternatif, sebuah alat komunikasi sosial ketika jalur formal terasa buntu.

Meski begitu, seni juga menghadapi risiko. Jika tidak hati-hati, festival bisa terjebak menjadi sekadar tontonan wisata atau ajang selfie tanpa substansi.

Lebih jauh, tanpa dukungan kebijakan, festival ini berisiko mati suri. Relawan yang kini bersemangat bisa lelah, seniman bisa frustrasi, dan masyarakat bisa jenuh jika tak ada perubahan nyata.

Mentok Arts Festival 2025 telah memberi cahaya: seni dan budaya bisa menjadi ruang perlawanan, identitas, dan harapan. Namun, investigasi ini juga menunjukkan yaitu cahaya itu masih rapuh.

Apakah pemerintah daerah siap menjadikan festival ini sebagai bagian strategi pembangunan kota pusaka? Apakah masyarakat siap menjaga gotong royong tanpa bergantung pada pencitraan pejabat?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan nasib Mentok. Karena pada akhirnya, sebuah kota bukan hanya ditentukan oleh batu bata, tapi oleh seni yang membuatnya bicara. (blv)

Pasang Iklan
Akses Terus Biar Update
Iduladha PWI Bangka Selatan Iduladha Pemkab Basel Iduladha DPRD Basel