Secara ekologis, kemunculan ikan besar seperti pari menunjukkan bahwa sebagian ekosistem masih berfungsi. Namun ilmuwan kelautan berulang kali mengingatkan bahwa kerusakan dapat kembali terjadi lebih cepat dari proses pemulihannya.
Kerusakan Teluk Kelabat Dalam sudah tercatat sebelumnya, seperti dasar laut tertutup lumpur tambang, plankton mati, ikan kecil menghilang, dan hewan besar enggan kembali.
Seorang nelayan tua yang menyaksikan pari itu mengusap matanya sambil berkata, “Waktu air keruh, pari-pari pergi. Hari ini dia datang lagi. Mungkin dia mau bilang: jaga aku sebelum aku pergi selamanya.”
Nelayan Teluk Kelabat Dalam kini hidup di antara dua kenyataan, yakni laut yang menjadi penopang kehidupan turun-temurun dan ancaman tambang yang menjanjikan uang cepat namun meninggalkan kerusakan panjang.
Eko mengaku muak saat beberapa tahun lalu melihat banyak nelayan pulang dengan perahu kosong selama berhari-hari. “Saya tidak mau jadi bagian dari itu. Laut waktu itu tidak memberi apa-apa,” katanya.
Meski Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) dan Kejaksaan Agung berulang kali menyatakan komitmen menertibkan tambang ilegal, para nelayan menilai kondisi di lapangan belum sepenuhnya berubah.
“Kalau penindakan hanya datang saat ada sorotan kamera, tambang bisa masuk lagi kapan saja,” tutur seorang nelayan senior.
Sementara di warung kopi, para nelayan memandangi foto pari 80 kg itu di ponsel mereka. Yang mereka simpan bukan kebanggaan atas tangkapan besar, melainkan pesan yang dibawanya.
Bagi mereka, pari itu adalah bukti bahwa teluk masih punya denyut hidup, peringatan bahwa kerusakan bisa datang kembali kapan saja, serta tanda bahwa tambang tidak boleh lagi masuk, dan simbol laut yang masih mau memaafkan.
“Pari itu rezeki, tapi juga peringatan. Kalau kita tidak jaga teluk ini, nanti kita cuma bisa cerita ke anak cucu: dulu, pernah ada pari besar datang memberi harapan,” kata Eko. (Belva)
















