“Kami ingin masyarakat tidak hanya datang melihat buku, tetapi juga memahami bahwa arsip dan literasi adalah fondasi penting dalam menjaga sejarah dan membangun peradaban daerah,” ujar Risvandika.
Ia menambahkan, keberadaan arsip daerah yang dipamerkan diharapkan mampu membuka kesadaran publik bahwa sejarah Bangka Selatan tersimpan rapi dan dapat diakses sebagai sumber pembelajaran lintas generasi.
Sementara itu, Ketua PWI Bangka Selatan, Dedy Irawan, menegaskan bahwa keterlibatan insan pers dalam kegiatan ini merupakan bentuk komitmen nyata mendorong literasi publik, khususnya di momentum HPN 2026 yang beririsan dengan hari jadi daerah.
“HPN bukan hanya tentang wartawan, tetapi juga tentang peran pers dalam mencerdaskan masyarakat. Melalui kegiatan literasi ini, kami ingin menghadirkan ruang dialog, pengetahuan, dan apresiasi terhadap karya-karya penulis lokal Bangka Selatan,” kata Dedy Irawan, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, bedah buku dan pameran karya penulis lokal menjadi wadah penting untuk mengangkat potensi literasi daerah agar tidak tenggelam di tengah arus informasi digital yang serba cepat.
“Kami berharap generasi muda semakin akrab dengan buku, mengenal penulis daerahnya sendiri, dan menjadikan membaca sebagai bagian dari keseharian,” ujarnya.
Kegiatan literasi ini terbuka untuk pelajar, mahasiswa, guru, komunitas literasi, hingga masyarakat umum. Penyelenggara berharap, rangkaian acara tersebut mampu menjadi magnet edukasi sekaligus hiburan intelektual yang menumbuhkan kecintaan terhadap membaca, menulis, dan memahami sejarah Bangka Selatan.
Dengan mengusung semangat HPN 2026 dan HUT ke-23 Bangka Selatan, agenda ini diharapkan tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga meninggalkan jejak sebagai gerakan literasi yang berkelanjutan di Negeri Junjung Besaoh. (*)





















