Sejumlah kajian lingkungan mencatat, penambangan timah laut berdampak signifikan terhadap kualitas air, struktur dasar laut, serta ekosistem pesisir seperti terumbu karang dan padang lamun. Bahkan, dalam jangka panjang, aktivitas ini berpotensi meningkatkan kandungan logam berat yang berbahaya bagi biota laut dan manusia.
Sebelumnya, fenomena serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain di perairan Bangka Belitung, termasuk kawasan Teluk Kelabat Dalam. Nelayan mengeluhkan penurunan hasil tangkapan akibat air laut yang terus keruh meski aktivitas tambang tidak selalu terlihat aktif.
Selain laut, dampak lingkungan juga dirasakan pada wilayah pesisir. Sedimentasi tinggi disebut turut memicu kerusakan mangrove, padahal vegetasi ini berfungsi sebagai penahan abrasi, penyaring sedimen, sekaligus habitat penting bagi ikan dan biota laut lainnya.
Di tengah tekanan tersebut, nelayan berada pada posisi dilematis. Di satu sisi, mereka menggantungkan hidup pada laut yang kian tertekan. Di sisi lain, sebagian warga tergoda bekerja di sektor pertambangan karena dianggap memberi penghasilan cepat.
“Kami hanya ingin laut tetap ada untuk anak-anak kami. Kalau laut rusak, kami mau hidup dari apa,” kata Eko.
Pemerintah daerah dan berbagai pihak sebenarnya telah melakukan sejumlah upaya pemulihan lingkungan, salah satunya melalui program rehabilitasi mangrove di wilayah pesisir Bangka Belitung. Ribuan hektare mangrove ditanam kembali untuk memulihkan fungsi ekosistem dan menekan dampak sedimentasi.
Namun, nelayan menilai upaya tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan di lapangan tanpa pengawasan ketat terhadap aktivitas penambangan laut.
Kemunculan pari 50 kilogram di perairan Mengkubung pun menjadi simbol tersendiri bagi masyarakat pesisir. Ia bukan hanya tentang hasil tangkapan besar, tetapi juga pengingat bahwa laut masih memberi tanda kehidupan di tengah tekanan yang terus berlangsung.
Pari tersebut akhirnya dibawa ke darat untuk dibagi dan dijual. Namun bagi nelayan, kisah tentangnya akan terus diingat sebagai pertanyaan sekaligus harapan: apakah laut masih akan memberi, atau perlahan hanya menyisakan lumpur di jaring mereka. (*)
















