Tak heran jika kerukunan di Mentok tumbuh dari dapur dan meja makan.
Kue bangkit, kue rintak, bingka labu hingga kue keranjang menjadi simbol percampuran budaya yang telah mengakar.
Selain merawat harmoni, Pasar Ramadhan juga menggerakkan ekonomi warga.
Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bangka Barat menunjukkan sektor kuliner menjadi salah satu penggerak ekonomi rumah tangga, terutama selama Ramadhan ketika omzet pedagang meningkat signifikan.
Bagi ibu rumah tangga, bazar menjadi peluang tambahan penghasilan. Bagi pemuda, ini ruang belajar wirausaha.
Anak-anak belajar menghitung uang. Remaja memasarkan kue lewat media sosial. Resep turun-temurun kembali hidup.
Menariknya, sebagian pedagang mulai beralih menggunakan daun pisang dan kertas pembungkus sebagai pengganti plastik sekali pakai.
Langkah ini muncul dari diskusi komunitas UMKM yang ingin menjaga kebersihan pantai dan sungai Mentok.
“Kalau kota kita ingin jadi wisata kuliner, lingkungannya harus bersih,” ujar seorang relawan pemuda setempat.
Laporan Indeks Kerukunan Umat Beragama dari Kementerian Agama RI menempatkan Bangka Belitung sebagai wilayah dengan tingkat toleransi relatif tinggi.
Namun di Mentok, toleransi tidak lahir dari seminar panjang.
Ia hidup di tangan yang saling memberi.
Ketika azan magrib berkumandang, kerumunan bubar perlahan. Plastik berisi takjil dibawa pulang ke rumah Melayu, rumah Tionghoa, rumah Kristen, rumah siapa saja.
Di setiap meja makan, kue bangkit menjadi simbol bahwa perbedaan bisa duduk bersama.
Dari pasar kecil di Kampung Tanjung itu, Mentok mengirim pesan sederhana: harmoni bisa tumbuh dari dapur rakyat, dan toleransi bisa lahir dari sepotong takjil.
















