Tak hanya itu, Pemkot Pangkalpinang terus melakukan langkah antispatif jangka panjang. Dessy menyebutkan, Wali Kota Pangkalpinang, Prof Saparudin, telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat, termasuk bertemu Kementerian Pekerjaan Umum (PU), untuk mengusulkan pembangunan bendung karet sebagai upaya menahan air pasang laut.
Untuk itu, Dessy mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai perangkat daerah, camat, lurah, pelaku usaha, hingga warga, untuk bergotong royong menjaga kebersihan lingkungan, termasuk membersihkan saluran air dan drainase secara rutin agar dampak banjir rob bisa diminimalisir.
“Kami mohon doa agar usulan ini disetujui, sehingga menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi dampak banjir rob,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Pangkalpinang, Barka, menambahkan, bantuan bersifat insidentil dan berasal dari stok logistik Kemensos yang disalurkan melalui provinsi ke kabupaten/kota.
“Jika stok kurang, kami akan kembali mengajukan penambahan logistik ke Kemensos. Tahun ini memang cukup banyak wilayah terdampak, sehingga koordinasi terus dilakukan,” ujarnya.
Barka menjelaskan, secara keseluruhan, jumlah bantuan yang telah disalurkan Pemkot Pangkalpinang untuk korban banjir rob di berbagai kelurahan hampir mencapai seribu paket.
Tak hanya untuk bencana lokal, lanjut Barka, Pemkot Pangkalpinang juga ikut mendukung penanggulangan bencana nasional, seperti banjir di Sumatera. Ia menyebut, sumbangan dari ASN Kota Pangkalpinang untuk disalurkan ke warga terdampak banjir rob sesuai instruksi Wali Kota dan telah terkumpul lebih dari Rp75 juta.
“Ini nanti kita tunggu arahan dari Provinsi terkait penyalurannya. Semoga seluruh upaya ini bisa membantu masyarakat terdampak bencana,” pungkasnya. (*)

















