Scroll untuk baca artikel
Pasang Iklan
BeritaKab. Bangka Barat

Perang Ketupat Tempilang, Tradisi Sakral di Tengah Tekanan Pariwisata dan Ancaman Komersialisasi

×

Perang Ketupat Tempilang, Tradisi Sakral di Tengah Tekanan Pariwisata dan Ancaman Komersialisasi

Sebarkan artikel ini
Perang Ketupat Tempilang, Tradisi Sakral di Tengah Tekanan Pariwisata dan Ancaman Komersialisasi

Kekhawatiran serupa disampaikan sejumlah tokoh pemuda Tempilang. Mereka melihat geliat ekonomi dari pariwisata memang membantu UMKM, tetapi juga membawa perubahan perilaku pengunjung.

“Sekarang banyak yang datang hanya untuk foto dan konten media sosial. Kami takut esensi adatnya pelan-pelan terkikis,” kata Rian, pemuda setempat.

Pantai Pasir Kuning sendiri bukan sekadar lokasi acara, melainkan ruang hidup masyarakat pesisir.

Nelayan Tempilang menggantungkan penghasilan pada perairan di sekitarnya, yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan abrasi dan aktivitas ekonomi ekstraktif.

“Kalau lingkungan rusak, tradisi juga ikut goyah. Perang Ketupat hidup karena lautnya hidup,” ujar seorang nelayan yang hadir dalam prosesi.

Wakil Bupati H. Yus Derhaman mengakui tantangan tersebut. Pemerintah daerah, kata dia, sedang menyiapkan konsep pengembangan kawasan budaya yang tetap menghormati nilai adat.

“Kami ingin pariwisata berjalan seiring dengan pelestarian. Tidak boleh tradisi dikorbankan demi mengejar jumlah pengunjung,” ucapnya.

Sejumlah pelaku UMKM merasakan dampak positif acara tahunan ini. Lapak makanan, kerajinan, dan jasa transportasi lokal ramai diserbu pembeli.

Meski demikian, mereka berharap ekonomi tidak mengubah wajah Perang Ketupat menjadi pasar bebas tanpa batas.

“Alhamdulillah jualan laris, tapi kami juga ingin adat tetap dihormati. Jangan sampai nanti cuma jadi event bisnis,” tutur Siti, pedagang makanan di sekitar pantai.

Para pemerhati budaya menilai Perang Ketupat membutuhkan payung perlindungan yang lebih dari sekadar seremoni tahunan.

Regulasi zonasi, pembatasan aktivitas komersial berlebihan, serta pendidikan nilai adat kepada generasi muda dianggap mendesak.

“Pelestarian bukan hanya mengundang pejabat, tapi memastikan makna ritual tetap diwariskan,” ujar seorang akademisi lokal.

Menjelang petang, prosesi ditutup dengan doa bersama. Sisa-sisa ketupat berserakan di pasir, menyatu dengan ombak yang perlahan naik. Di wajah warga terpancar lega, namun juga tanya tentang masa depan tradisi mereka.

Perang Ketupat Tempilang hari ini berdiri di persimpangan: antara menjadi penanda jati diri atau sekadar etalase wisata. Pilihan itu kini bukan hanya milik masyarakat adat, tetapi juga negara dan para pengunjung yang datang menyaksikannya. (Belva)

Pasang Iklan
Akses Terus Biar Update
Iduladha PWI Bangka Selatan Iduladha Pemkab Basel Iduladha DPRD Basel