“Jadi saat ini kita kekurangan suplai bahan ubi casesa dan batang rumbia. Padahal harga beli kita cukup bagus untuk ubi casesa Rp 1.600 dan rumbia Rp 700 perkilogramnya,” jelasnya.
Menurut Koni saat ini terjadi peralihan petani ubi casesa ke tanaman kebun lainnya. Sehingga pabrik kerap kekurangan suplai ubi. Sedangkan untuk batang rumbia masyarakat yang menjual ke pabrik kebanyakan mencari batang yang tumbuh liar.
“Jadi begitulah kenapa pabrik kita walaupun tetap produksi setiap hari namun tidak maksimal sesuai kapasitas produksi karena kekurangan bahan,” ujarnya.
Koni menambahkan, saat ini pihaknya membeli batang rumbia dari masyaraiat berkisar Rp700 perkilogramnya.
“Harga tersebut diterima di pabrik,” katanya.
Masih kata Koni, saat ini PT BAA telah menyiapkan 1.000 bibit pohon rumbia dan akan disebarkan ke masyarakat.
Pohon rumbia tidak memerlukan perawatan khusus sebab bisa tumbuh liar di tempat-tempat yang mengandung air. Seperti rawa atau pinggir kolong dan cepat berkembang biak sehingga meskipun pohon induk ditebang, tapi anaknya sudah berkembang biak.
“Panen perdananya batang rumbia 10 tahun tapi berikutnya usai 7-8 tahun dan tidak perlu peremajaan karen akan terus tumbuh untuk di panen. Selain itu rumpun rumbia bisa menetralkan PH air, mencegah banjir serta tempat berkembang biak ikan dan udang,” tuturnya. (rel)
















