“Kami tidak minta uang, kami tidak minta sembako. Kami hanya ingin laut kami tidak dijarah,” ujar nelayan lainnya.
Lebih lanjut, warga juga menyayangkan kehadiran aparat keamanan yang didatangkan ke desa-desa pesisir. Menurut mereka, hal ini justru menimbulkan ketegangan dan membuat warga merasa tidak nyaman di kampungnya sendiri.
“Ada pos polisi, ada patroli setiap hari. Kami merasa diawasi seperti penjahat. Padahal kami hanya ingin melindungi laut kami,” ucap salah satu peserta aksi.
Aksi damai yang berlangsung tertib ini menjadi simbol perjuangan masyarakat pesisir menolak ketimpangan dan eksploitasi sumber daya alam. Mereka menegaskan bahwa laut bukan hanya ruang ekonomi, tapi juga bagian dari identitas dan warisan budaya.
“Laut menyekolahkan anak-anak kami. Laut beli beras, bayar listrik, isi dapur kami. Jangan rusak laut kami dengan tambang,” ujar seorang ibu yang turut serta sambil menggandeng anaknya yang masih berseragam SD.
Para nelayan berharap, pemerintah provinsi maupun pusat mendengar jeritan mereka dan bertindak adil dalam mengelola potensi alam. Mereka menegaskan, perjuangan ini belum berakhir.
“Laut adalah rumah kami. Kalau rumah kami dihancurkan, kami akan terus melawan,” pungkas seorang tokoh nelayan di akhir orasi. (belva)
















