Bersandarnya kapal yang telah mengarungi samudera lebih dari sebulan ini menjadi harapan bagi visi ketahanan energi nasional.
“Ini merupakan bukti nyata Pertamina dalam menjalankan amanah Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto,” ujar Simon dalam sambutannya di Grha Pertamina, Jakarta.
Simon menambahkan, pengapalan perdana ini mencerminkan sinergi kuat antarentitas di lingkungan Pertamina, mulai dari PIEP sebagai produsen, Pertamina International Shipping sebagai pelaksana pengapalan, hingga Kilang Pertamina Internasional sebagai pembeli dan pengelola kilang di dalam negeri.
“Sinergi ini mampu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok energi global dan membuktikan bahwa Indonesia mampu berdiri di kaki sendiri,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kerja keras seluruh Perwira Pertamina yang terlibat dalam keberhasilan pengiriman kargo minyak mentah tersebut.
“Seluruh jajaran komisaris akan terus memberikan dukungan untuk mengawal proses di Pertamina hingga minyak mentah ini dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia,” tegas Iriawan.
Sebagai informasi, Pertamina mulai menjalin kerja sama di Aljazair sejak penandatanganan kontrak tahunan dengan Sonatrach pada 2002–2003.
Kolaborasi tersebut semakin diperkuat pada 2014 melalui akuisisi hak pengelolaan Blok Menzel Lejmat (MLN), yang kini menjadi salah satu aset strategis Pertamina di kawasan Afrika Utara.
Herman Yakub.
















