Di sisi lain, Asisten II Setda Bangka Barat, Drs. Heru Wasito, yang hadir mewakili Bupati Bangka Barat, Markus, menegaskan bahwa kegiatan penanaman jagung serentak di kuartal IV tahun 2025 bukan hanya seremoni belaka.
Heru menyebut, langkah ini adalah bagian dari perjalanan panjang menuju kemandirian pangan.
“Desa-desa di Bangka Barat sudah bergerak maju bersama. Dengan dana desa dan semangat kolaborasi, mereka kini tak lagi berjalan sendiri,” katanya penuh keyakinan.
Heru mencontohkan kerja sama antar desa yang semakin nyata. Desa Bilu Laut sebagai penghasil pakan, berkolaborasi dengan Desa Air Lintang sebagai sentra ayam petelur. Keduanya saling menopang dalam siklus ekonomi berkelanjutan, menciptakan rantai pangan yang lebih kuat.
“Kolaborasi ini bukan hanya soal jagung dan pakan, tetapi tentang bagaimana desa-desa saling menghidupi. Dari tanah ke ternak, dari petani ke peternak, dari rakyat untuk rakyat,” ujarnya.
Ia bahkan mengaku sudah mencoba sendiri hasil panen dari kerja keras masyarakat di wilayah tersebut.
“Saya sudah beli jagung dari BUMDes Bilu Laut, buat pakan bebek. Walau sederhana, kualitasnya luar biasa,” ucapnya sambil tersenyum bangga.
Sebelum menutup pidatonya, Heru juga menyampaikan ajakan dengan penuh optimisme untuk terus meningkatkan program ketahanan pangan kepada masyarakat di wilayah Bangka Barat.
“Mungkin nanti, Bangka Barat bukan hanya dikenal sebagai sentra durian. Siapa tahu, kelak kita punya kebun anggur, jagung, dan harapan yang tumbuh di setiap jengkal tanahnya.” ucap Heru.
Lebih dari Sekadar Tanam Jagung
Hari itu, di bawah langit biru Mentok, pemandangan luar biasa tergambar. Polisi, pejabat, dan petani berdiri sejajar di lahan yang sama. Mereka bersama-sama mencangkul, menanam, dan bercanda, seolah sekat peran hilang diganti semangat kebersamaan.
Bau pupuk kompos yang menyengat, tanah lengket di sepatu, hingga tawa kecil di sela kerja menjadi simbol gotong royong yang hidup di era modern. Tak ada jarak antara petani dan aparat, semua melebur demi tujuan yang sama: menjaga dapur masyarakat tetap penuh.
Di tanah yang dulunya gersang, kini tumbuh bukan hanya batang-batang jagung muda, melainkan harapan baru. Sebuah keyakinan bahwa Bangka Barat bisa mandiri jika semua tangan bersatu menanam. Karena sejatinya, ketahanan pangan lahir dari ketahanan hati untuk percaya dan bekerja sama. (blv)
















