Menurut Presiden, kebutuhan pangan dan gizi merupakan persoalan mendasar yang tidak bisa dipisahkan dari pembangunan sumber daya manusia. Karena itu, ia menilai program yang bertujuan mengatasi persoalan gizi harus dilihat berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat.
“Katanya ada orang-orang pintar yang mengatakan ada lebih genting dari perut lapar. Saya kira enggak ada lebih genting dari perut lapar. Orang perut lapar itu kalau enggak segera diisi, ya dia mati,” tegasnya.
Prabowo juga mengingatkan bahwa persoalan kelaparan masih menjadi ancaman serius di berbagai belahan dunia. Karena itu, Indonesia harus terus memperkuat ketahanan pangan sekaligus memastikan generasi mudanya memperoleh asupan gizi yang memadai.
“PBB sudah meramalkan tahun ini kelaparan di dunia akan masif. Dua tahun yang lalu, sekitar 300 juta orang kelaparan di dunia, diperkirakan sekarang sudah meningkat menjadi 500 juta,” ujarnya.
Dukungan terhadap Program MBG tidak hanya terlihat di dalam arena acara. Sepanjang perjalanan Presiden, masyarakat yang memadati ruas jalan juga terlihat membawa berbagai poster dan spanduk berisi pesan dukungan terhadap program tersebut.
Beberapa warga membentangkan poster bertuliskan “Teruskan MBG-nya, Pak”, sementara yang lain membawa spanduk berisi apresiasi kepada Presiden atas pelaksanaan program tersebut yang dinilai membantu masyarakat.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Program MBG masih mendapat respons positif dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama kelompok yang membutuhkan.
Herman Yakub.
















