Ia menegaskan pentingnya sinergi antar-OPD serta koordinasi yang intens dengan mitra pelaksana.
“Saya tekankan jangan sampai ada tumpang tindih pembangunan dapur. Semua OPD terkait harus maksimal menyatukan langkah agar program MBG di Basel berjalan optimal,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, selain memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah, kehadiran dapur-dapur ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pemanfaatan bahan baku dari daerah sendiri.
“Saat ini sudah ada tiga lokasi dapur yang dipersiapkan, yakni di Kecamatan Toboali, Desa Air Gegas, dan Desa Payung. Kami ingin semua persiapan segera tuntas, termasuk kesiapan mitra pelaksana dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), agar program tidak terhambat,” jelasnya.
Pemkab Basel juga memastikan akan terus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) serta memantau ketersediaan bahan baku agar tidak terjadi kelangkaan saat program dijalankan.
“Kami tidak ingin nanti muncul anggapan Pemkab Basel tidak mendukung program nasional. Karena itu semua pihak harus bergerak cepat,” tegas Hefi.
Lebih lanjut, Ia juga menyoroti kesiapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan mitra mandiri yang hingga kini belum sepenuhnya siap. Namun berdasarkan informasi dari Badan Gizi Nasional (BGN), persiapan ditargetkan rampung pada akhir September 2025.
Hefi berharap seluruh pihak terkait dapat mempercepat penyelesaian persiapan teknis sehingga program MBG dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Bangka Selatan, khususnya para pelajar.
“Kami tidak ingin program ini terkendala di lapangan hanya karena koordinasi yang kurang maksimal. MBG adalah program prioritas nasional yang manfaatnya langsung dirasakan anak-anak dan masyarakat,” pungkasnya. (*)
















