Sekilasindonews.com Jakarta – Peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk melihat bagaimana masa depan generasi muda Indonesia dibangun melalui kebijakan nyata.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menghadirkan sederet program yang menyentuh kebutuhan pemuda sejak usia dini, mulai dari pemenuhan gizi, pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran, hingga pembukaan peluang kerja dan kesempatan berkarier di tingkat global.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa upaya mencetak generasi unggul tidak cukup hanya dengan mendorong anak muda untuk bermimpi besar.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Syahganda Nainggolan, mengatakan pemerintah menempatkan pembangunan karakter sebagai bagian penting dalam menyiapkan generasi muda Indonesia menghadapi masa depan.
“Negara menempatkan karakter anak muda sebagai titik awal kemajuan. Pemerintah membentuk generasi yang tidak menyerah saat menghadapi kesulitan dan tidak runtuh saat gagal. Negara membuka jalan agar pemuda berani bermimpi setinggi langit dan bekerja sekeras mungkin sampai memberi yang terbaik bagi bangsa,” ujar Syahganda, dalam keterangannya, Rabu (28/10).
Komitmen tersebut tercermin dalam sejumlah program yang dirancang untuk menjangkau kebutuhan generasi muda di berbagai tahap kehidupan.
Mulai dari memastikan anak tumbuh sehat, membuka akses pendidikan yang lebih merata, menghadirkan ruang belajar yang layak dan modern, hingga membekali lulusan baru dengan pengalaman kerja serta peluang menembus pasar global.
*Makan Bergizi Gratis, Fondasi Membangun Generasi Unggul*
Pembangunan generasi unggul dimulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk gizi. Melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemerintah berupaya mendukung tumbuh kembang anak sekaligus memperkuat kesiapan mereka dalam mengikuti proses pendidikan.
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional per 9 Oktober 2026, program MBG telah menjangkau 57,5 juta penerima melalui 26.385 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Penerima manfaatnya terdiri atas 46,2 juta peserta didik, 3,9 juta pendidik dan tenaga kependidikan, serta 7,4 juta kelompok rentan, meliputi 4,9 juta balita, 1,8 juta ibu menyusui, dan 700 ribu ibu hamil.
Pemerintah menargetkan jangkauan program ini meningkat menjadi 72,4 juta penerima pada 2027. Dengan cakupan tersebut, MBG menjadi salah satu upaya memastikan kebutuhan gizi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk tumbuh, belajar, dan mengembangkan potensi mereka.
*Sekolah Rakyat, Membuka Kesempatan yang Setara*
Pemerintah juga memperluas kesempatan belajar melalui program Sekolah Rakyat. Program ini membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga paling miskin, sekaligus membantu mengurangi beban orang tua yang selama ini menghadapi keterbatasan ekonomi.
Per 23 September 2026, Sekolah Rakyat telah beroperasi di 182 titik, dengan lebih dari 90 lokasi menempati gedung permanen dan melayani sekitar 44.000 siswa.
Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 150 ribu siswa pada 2027. Pemerintah juga menargetkan pembangunan 500 Sekolah Rakyat permanen hingga 2029.
Melalui skema pendidikan berasrama, siswa tidak hanya memperoleh kesempatan belajar, tetapi juga dukungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Anak-anak dapat bersekolah tanpa harus terbebani biaya pendidikan, makan, maupun tempat tinggal.
*Revitalisasi Sekolah, Menghadirkan Ruang Belajar yang Lebih Layak*
Upaya memperluas akses pendidikan berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas sarana pendidikan.
Pemerintah melakukan revitalisasi sekolah untuk menghadirkan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman bagi siswa maupun guru.
















