“Anak-anak tidak hanya belajar tata cara dan doa-doanya, tetapi juga menggali pengalaman langsung dari bapak ibu guru yang pernah berhaji,” jelas Reka.
Pada prosesi Tahalul, siswa juga menjalani pemotongan rambut minimal tiga helai sebagai simbol telah bebas dari Ihram.
Selain itu, karena simulasi menggunakan konsep Haji Tamattu seperti yang umum dilakukan jamaah Indonesia.
Menurut Reka, kegiatan ini tidak sekadar praktik pembelajaran, tetapi juga menjadi sarana menanamkan nilai-nilai keimanan, kedisiplinan, dan ketaatan kepada Allah SWT.
“Harapannya anak-anak bisa memahami setiap proses ibadah haji, menaati aturan dan larangan selama Ihram, lalu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ia berharap pengalaman manasik haji tersebut dapat menjadi bekal bagi siswa ketika kelak benar-benar menunaikan ibadah haji di masa depan.
“Tujuan utamanya tentu untuk meningkatkan ketakwaan anak-anak kepada Allah SWT dan membentuk pribadi yang lebih beriman serta berakhlak baik,” tutupnya.
Herman Yakub.
















