“Sekarang sudah di tarik bang, kemarin mereka bekerja di pinggir bibir pantai,” katanya.
Santri juga mengungkap adanya aktivitas mencurigakan berupa pengangkutan bijih timah pada malam hari menggunakan kapal sped lidah tanpa pengawasan dari pihak PT Timah.
“Beberapa kali kami lihat mereka bawa 2 sampai 4 kampil bijih timah malam-malam. Kami enggak tahu itu dibawa ke mitra PT Timah atau ke tempat lain. Tapi yang jelas, tidak ada pengawalan,” ujarnya.
Ia turut menyinggung dugaan keterlibatan Ketua RT Timbul dalam alur uang kompensasi yang tidak jelas penyalurannya.
“Kami dengar langsung, Ketua RT itu juga sudah terima Rp15 juta. Tapi ke kami, nol besar,” tambah Santri.
Desakan kepada PT Timah dan aparat penegak hukum pun menguat. Nelayan meminta tindakan tegas terhadap aktivitas TI Tower yang dianggap merugikan mereka.
“Kami nelayan kecil hanya minta keadilan. Jangan sampai karena tak ada tindakan, kami terpaksa turun tangan sendiri,” tandasnya.
Saat ditemui di lokasi perairan Kubu, Ketua RT Timbul justru membenarkan adanya penerimaan uang tersebut.
“Ya benar, emang kami yang nerima uang itu,” ujar Timbul dengan nada menantang.
Ia berdalih bahwa uang tersebut telah dibagikan kepada para nelayan. Namun fakta di lapangan berkata lain. Para nelayan kompak membantah pernah menerima kompensasi tersebut.
“Sudah kami bagikan ke nelayan,” klaim Timbul singkat.
















