Tragedi Pesisir Air Lintang: Penggelapan Timah Dibiarkan, Nelayan Jadi Korban
SEKILASINDONEWS.COM – Senja di pesisir Air Lintang tidak pernah berubah. Matahari tetap tenggelam dengan anggun, memantulkan cahaya keemasan di atas laut yang tampak tenang.
Namun di balik ketenangan itu, sesuatu telah lama retak.
Laut yang dulu menjadi ruang hidup, kini perlahan berubah menjadi ruang eksploitasi. Bukan lagi tempat nelayan menggantungkan harapan, melainkan ladang yang diperebutkan diam-diam, tanpa suara, tanpa batas yang jelas.
Dan di sanalah tragedi itu berlangsung.
Saat air surut, garis pantai di Air Lintang memperlihatkan wajah lain: lumpur pekat yang menganga, seperti luka yang tak pernah sempat sembuh.
Di kejauhan, puluhan ponton tambang berdiri kaku. Tak bergerak mencolok, tak bersuara keras. Tapi keberadaannya cukup untuk mengubah segalanya.
Aktivitas itu seperti berlangsung dalam dua dunia.
Siang hari, laut terlihat biasa.
Malam hari, alur yang lain bekerja.
Karung-karung bijih timah berpindah tanpa jejak administratif. Dari laut ke darat. Dari darat ke kendaraan. Lalu hilang ke jalur yang tak tercatat.
Tidak ada papan nama.
Tidak ada dokumen terbuka.
Tidak ada penjelasan.
Yang tersisa hanyalah pola yang berulang.
Di sebuah akses menuju pesisir, berdiri papan imbauan:
“Wajib menyerahkan hasil produksi bijih timah di satu lokasi resmi.”
Namun papan itu telah robek.
Sebagian huruf hilang.
Sebagian pesan tak terbaca.
Seperti aturan itu sendiri ada, tapi tak utuh. Berlaku, tapi tak selalu bekerja.
Di celah itulah, praktik-praktik di luar jalur resmi diduga menemukan ruang.
Baidi (53) berdiri di tepi pantai, memandang laut yang dulu ia kenal seperti halaman rumah sendiri.
Kini, ia harus pergi lebih jauh.
“Dulu kami cukup dekat melaut. Sekarang harus jauh. Biaya naik. Hasil belum tentu ada,” katanya pelan.
Kalimatnya sederhana, tapi menggambarkan perubahan besar yang tak tercatat dalam laporan resmi.
Baharudin (60) menambahkan dengan nada lebih tegas.
“Kalau lewat jalur resmi, mungkin ada kompensasi. Tapi kalau di luar itu, kami tidak dapat apa-apa.”
Di titik ini, persoalannya bukan sekadar soal tambang.
Melainkan tentang siapa yang mendapatkan manfaat dan siapa yang menanggung dampak.
Sejumlah kajian lingkungan telah lama memperingatkan dampak tambang di wilayah pesisir Bangka Belitung: peningkatan sedimentasi, rusaknya terumbu karang, hingga menyusutnya ruang tangkap nelayan.
Namun angka-angka itu tidak sepenuhnya menjelaskan apa yang terjadi di lapangan.
Mereka tidak mencatat:
Nelayan yang pulang tanpa hasil
Anak-anak yang mulai bertanya tentang makan esok hari
Kecemasan yang tumbuh diam-diam di rumah-rumah pesisir
















