Kerusakan ekologis di sini berjalan beriringan dengan tekanan sosial.
Jejak yang Terlihat, Tapi Sulit Dijangkau
Warga bukan tidak tahu.
Mereka melihat aktivitas itu.
Mereka mengenali polanya.
Mereka memahami apa yang sedang terjadi.
Namun tidak semua berani bicara.
Bukan karena tidak ingin.
Tapi karena mereka sadar, persoalan ini tidak berdiri sendiri.
Ada rantai yang panjang.
Ada kepentingan yang berlapis.
Dan ada risiko yang tidak kecil.
Dalam situasi seperti ini, diam sering kali menjadi pilihan paling aman.
Secara formal, tata kelola pertambangan telah diatur. Jalur distribusi ditetapkan. Pengawasan seharusnya berjalan.
Namun di lapangan, realitas tidak selalu bergerak searah dengan aturan.
Pertanyaan yang kemudian muncul menjadi sederhana, tapi berat:
Jika aturan ada, mengapa pelanggaran terus terjadi?
Jika pelanggaran terlihat, mengapa sulit dihentikan?
Sejumlah kajian menyebut lemahnya pengawasan dan tata kelola sebagai celah utama dalam praktik sumber daya alam.
Di Tempilang, celah itu terasa nyata.
Dalam seluruh rantai ini, nelayan berada di posisi paling lemah.
Mereka tidak punya akses pada kebijakan.
Tidak punya kendali atas aktivitas di laut.
Namun menjadi pihak pertama yang merasakan dampak.
Setiap air yang keruh berarti jaring kosong.
Setiap ikan yang hilang berarti dapur yang terancam.
Ketika itu terjadi berulang, yang muncul bukan sekadar kesulitan ekonomi.
Melainkan hilangnya kepastian hidup.
Senja kembali datang.
Baidi duduk di tepi pantai. Kali ini ia tak lagi memandang jauh.
Seolah ia tahu, sejauh apa pun melihat, jawabannya tetap sama.
Laut itu masih di sana.
Tapi bukan lagi miliknya.
“Kalau terus begini…” ucapnya pelan, lalu terhenti.
Ia seperti menimbang kata yang tidak terlalu menyakitkan. Namun pada akhirnya, ia memilih jujur.
“Kami kehilangan masa depan.” (belva)
















