Program MBG di Mentok tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi anak sekolah, tetapi juga memberdayakan petani, nelayan, dan pelaku UMKM lokal.
Bahan makanan seperti ikan, ayam, sayur, dan buah dibeli langsung dari pasar tradisional atau pemasok lokal, sehingga turut menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
Kepala Dinas Kesehatan Bangka Barat, Muhammad Rangkuti Sapi’i, S.IP, menjelaskan bahwa keberhasilan program MBG di Mentok merupakan hasil kerja lintas sektor antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
“Kita ingin program ini tidak sekadar memberi makan gratis, tapi juga memperbaiki pola konsumsi anak-anak dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kalau bahan bakunya dari petani dan nelayan lokal, manfaatnya jadi ganda,” ujarnya.
Selain pemerintah daerah, pelaksanaan dapur MBG juga melibatkan ibu rumah tangga di sekitar lokasi yayasan sebagai tenaga dapur. Mereka dilatih agar memahami standar kebersihan dan cara memasak sehat, sehingga makanan yang disajikan tidak hanya bergizi tetapi juga aman dikonsumsi.
Keberadaan dapur MBG di Kecamatan Mentok diharapkan menjadi model pelaksanaan bagi kecamatan lain di Bangka Barat. Pemerintah daerah berencana memperluas program ini ke wilayah Parittiga, Simpang Teritip, dan Tempilang pada tahun mendatang.
Wabup Bangka Barat optimistis bahwa pelaksanaan MBG di Mentok akan menjadi contoh nyata kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam membangun generasi yang sehat dan berdaya saing.
“Program ini bukan hanya soal makan siang. Ini tentang masa depan anak-anak kita. Kalau mereka sehat, mereka bisa belajar lebih baik, dan Bangka Barat punya masa depan yang kuat,” ucapnya.
Program Makan Bergizi Gratis juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menurunkan angka stunting, yang hingga tahun 2024 tercatat sebesar 15,7 persen berdasarkan data Dinas Kesehatan Bangka Barat.
Selain memberikan makanan bergizi, pemerintah juga melakukan edukasi kepada orang tua dan sekolah tentang pola makan seimbang dan kebersihan pangan.
“Anak-anak adalah masa depan daerah ini. Kalau gizinya baik, mereka tumbuh cerdas dan sehat. Tapi kalau gizinya buruk, dampaknya panjang. Jadi mari kita jaga sama-sama,” tutur Yus Derahman.
Suasana dapur MBG di Yayasan Izzatul Qur’an Sungai Baru kini menjadi saksi semangat baru di Kecamatan Mentok.
Setiap pagi, para petugas dapur sibuk menyiapkan makanan bergizi, sementara anak-anak sekolah menunggu dengan penuh antusias.
Program ini menjadi wujud nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Bangka Barat dalam menghadirkan pelayanan publik yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat, khususnya di bidang gizi anak-anak sekolah dasar.
“Makanan bergizi itu bukan kemewahan, tapi kebutuhan. Dari satu piring yang sehat, kita sedang menanam masa depan bagi anak-anak Bangka Barat,” tutup Yus Derahman. (blv)
















