“Jangan sampai warga kecil terus merasa terintimidasi,” ungkap Sukarji.
Menurutnya, mayoritas warga di kawasan Lapak Priuk merupakan masyarakat kurang mampu yang bekerja sebagai pemulung dan pekerja harian.
Karena itu, mereka berharap pemerintah hadir memberikan solusi yang manusiawi.
Dalam kesempatan yang sama, Aktivis Nasional, Nicho Silalahi mengapresiasi terbentuknya paguyuban tersebut.
Ia menilai lahirnya organisasi warga menjadi langkah penting dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk memperjuangkan hak-haknya secara mandiri.
Kami bangga dengan launching paguyuban ini, artinya sudah muncul kesadaran bersama bahwa rakyat harus mampu memimpin perjuangannya sendiri.
“Tugas kami hanya mendampingi agar mereka tidak salah arah,” katanya.
Nicho juga menyoroti adanya dugaan konflik agraria dan persoalan hukum terkait klaim kepemilikan lahan yang saat ini tengah berlangsung.
Ia menegaskan, paguyuban diharapkan menjadi wadah musyawarah warga agar tidak mudah diadu domba maupun diprovokasi pihak tertentu.
Kami ingin rakyat sendiri yang berbicara dan menentukan nasibnya melalui organisasi yang mereka bentuk.
“Paguyuban ini harus menjadi alat perjuangan bersama demi mendapatkan keadilan,” tegasnya.
Pelantikan pengurus Paguyuban Lapak Priuk tersebut berlangsung dengan penuh kebersamaan dan dihadiri warga setempat yang berharap organisasi tersebut mampu menjadi jembatan perjuangan hak-hak masyarakat kecil di Kota Cilegon.
Herman Yakub.
















