Cerita Humanis Lepas Sambut Dandim 0431 Bangka Barat: Pemerintah, Pantun, dan Persaudaraan
SEKILASINDONEWS.COM – Sabtu pagi, 4 Oktober 2025, halaman rumah dinas Bupati Bangka Barat menjelma seperti ruang keluarga besar. Tenda putih tegak berdiri, kursi-kursi tersusun rapi, dan semilir angin dari pesisir Sejiran Setason membawa aroma kopi hitam yang mengepul dari meja jamuan.
Di sana, pejabat pemerintah, jajaran TNI, tokoh masyarakat, ibu-ibu Persit, Dharma Wanita, Bhayangkari, hingga awak media larut dalam satu suasana: hangat, teduh, dan penuh kebersamaan. Bukan sekadar seremoni serah terima jabatan, melainkan panggung humanis yang memperlihatkan wajah pemerintah daerah Bangka Barat yang selalu merawat harmoni.
Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yusderahman, tampil di podium dengan senyum yang teduh. Ia tidak berjarak, tidak kaku, seakan sedang berbicara kepada keluarga. Kalimatnya dihiasi pantun, membuat suasana cair.
“Kalaulah tidak karena tugas, tentu tidaklah kita akan berpisah,” ucapnya.
Sebuah pantun sederhana, tetapi mengandung makna dalam: bahwa tugas negara sering kali memisahkan, namun tidak memutuskan ikatan persaudaraan. Dalam kalimat itu, terlihat bagaimana pemerintah hadir bukan sekadar memberi sambutan resmi, melainkan merajut rasa kebersamaan.
Sikap ini mencerminkan wajah Bangka Barat bahwa pemerintah daerah yang menempatkan persaudaraan di atas kepentingan formalitas.
Letkol Inf. Kemas Muhammad Nauval, M.Han., yang dua tahun terakhir memimpin Kodim 0431, tampak berkaca-kaca. Baginya, masa tugas di Bangka Barat bukan sekadar menjalankan perintah, melainkan perjalanan batin.
Ia bercerita bagaimana masyarakat Bangka Barat begitu toleran, jauh dari konflik SARA, lebih memilih bergandengan tangan untuk menata ekonomi. “Permasalahan di sini bukan isu SARA, tapi masalah perut,” ucapnya, disambut tawa hadirin.
Namun di balik tawa, terselip kisah duka. Ia kehilangan orang tua di tengah masa jabatannya. Tangis yang ia tahan, terselip dalam kalimat pamitnya.
“Saya mohon maaf jika ada salah kata, salah sikap. Saya titipkan Bangka Barat kepada penerus saya.” ucapnya.
Pemerintah daerah memberi apresiasi penuh atas dedikasi Kemas. Kehadiran Wakil Bupati, jajaran Forkopimda, hingga tokoh masyarakat menjadi bukti bahwa pemerintah Bangka Barat tidak pernah menutup mata terhadap pengabdian siapa pun yang berjuang untuk daerah ini.
Ketika giliran Letkol Czi Fadil, S.E. maju, suasana kembali cair. Ia memperkenalkan diri dengan bahasa yang membumi, penuh kehangatan, bahkan humor.
“Kadang saya lupa ulang tahun anak, tapi ulang tahun istri tidak pernah saya lupa. Kalau lupa bisa bahaya,” ujarnya, membuat hadirin tertawa.
Dalam tawa itu, pemerintah Bangka Barat menyambutnya bukan sebagai pejabat baru semata, tetapi sebagai anggota keluarga besar Sejiran Setason. Yusderahman menyambut dengan doa: “Semoga di bawah kepemimpinan Bapak, marwah Kodim 0431 tetap terjaga, sebagai institusi yang mengayomi masyarakat.”
Kata “marwah” menggaung kuat, menjadi pesan bersama bahwa kehormatan dan persaudaraan harus selalu dijaga.
















