Di Tengah Isu Pewarna Tekstil, Pembuat Terasi Rumahan Toboali Tetap Jaga Keaslian Olahan
SEKILASINDONEWS.COM – Isu ditemukannya terasi yang diduga mengandung pewarna tekstil oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di salah satu pasar tradisional Toboali membuat resah warga dan para pembeli.
Temuan ini juga memicu kekhawatiran di kalangan pembuat terasi rumahan yang selama ini mempertahankan proses produksi tradisional dan berbahan alami. Salah satunya adalah Rusyaden (63), nelayan sungkur yang hampir tiga tahun memproduksi terasi rumahan.
Ia mengaku terkejut sekaligus cemas karena khawatir kepercayaan masyarakat terhadap terasi lokal ikut menurun.
“Alhamdulillah, terasi yang saya buat ini murni dari hasil tangkapan sendiri. Semua bahannya alami, tidak ada campuran apa pun, hanya garam makanan saja,” ujar Rusyaden saat ditemui di rumahnya, Selasa (25/11/2025).
Ia meyakini, jika benar ada temuan terasi mengandung pewarna tekstil, besar kemungkinan produk tersebut bukan berasal dari pengrajin asli Toboali. Menurutnya, masyarakat setempat yang turun-temurun membuat terasi selalu mengandalkan bahan alami tanpa tambahan zat kimia.
“Kalau kami orang Toboali, Bangka Selatan, tidak pernah mencampur bahan pengawet ataupun pewarna. Yang ditemukan BPOM itu mungkin terasi dari luar yang dijual di sini,” jelasnya.
Rusyaden kemudian menceritakan proses pembuatan terasi tradisional yang ia jalankan. Kualitas terasi, katanya, sangat bergantung pada kesegaran udang kecil atau rebon yang digunakan.
















