Jejak Tambang di Laut Tempilang: Keruh, Rusak, dan Reklamasi Dipertanyakan
SEKILASINDONEWS.COM – Laut yang dulu menjadi sumber penghidupan kini berubah jadi saksi bisu kerusakan. Air mengeruh, hasil tangkapan menurun, dan janji reklamasi yang seharusnya memulihkan justru tak kunjung terlihat.
Di pesisir Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, nelayan mulai mempertanyakan: ke mana sebenarnya tanggung jawab itu pergi?.
Di Pantai Pasir Kuning, perubahan itu tampak nyata. Warna air yang tak lagi jernih, jaring yang kerap rusak, hingga ikan yang makin sulit didapat menjadi keseharian baru bagi para nelayan.
Aktivitas tambang laut yang berlangsung di wilayah izin usaha pertambangan disebut-sebut menjadi pemicu utama kondisi tersebut.
Ironisnya, upaya pemulihan lingkungan yang diwajibkan secara hukum justru dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sejumlah rumpon beton yang seharusnya menjadi habitat buatan ikan, justru ditemukan terbengkalai di daratan tidak pernah diturunkan ke laut.
“Kalau ini untuk laut, kenapa tidak di laut?” kata Ali (56), nelayan Desa Air Lintang, dengan nada tajam, Sabtu (25/4/2026).
Bagi Ali dan nelayan lainnya, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah. Ia adalah ruang hidup yang kini perlahan kehilangan fungsinya.
Dalam beberapa tahun terakhir, mereka merasakan langsung dampak dari aktivitas tambang yang dinilai lebih cepat dibanding daya pulih lingkungan.
Kerusakan tak hanya terlihat di permukaan. Sedimentasi meningkat, terumbu karang tertutup, dan populasi ikan terus menurun. Akibatnya, nelayan harus melaut lebih jauh dengan biaya lebih besar, tanpa jaminan hasil yang memadai.


















