SEKILASINDONEWS.COM – Pantai Gunung Namak di Toboali, Bangka Selatan, selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan pesisir dengan panorama yang memanjakan mata. Pasir putih, air laut jernih, batu granit khas Bangka hingga pemandangan matahari terbenam menjadi magnet bagi wisatawan.
Namun dibalik pesona indah itu tersimpan dugaan aktivitas gelap yang mulai mengusik.
Hasil penelusuran awak media pada Sabtu (15/8/2026) menemukan kesaksian nelayan setempat mengenai dugaan aktivitas bongkar muat pasir timah yang diduga dilakukan secara ilegal di kawasan pesisir Pantai Gunung Namak.
Aktivitas itu disebut berlangsung pada malam hari dan diduga berkaitan dengan pengiriman timah melalui jalur laut.
Seorang nelayan yang ditemui awak media mengaku pernah melihat sebuah mobil truk yang diduga mengangkut pasir timah melakukan bongkar muat di kawasan tersebut sekitar pukul 20.00 WIB.
“Beberapa bulan lalu ada mobil truk yang diduga mengangkut pasir timah ilegal. Aksinya sekitar pukul 20.00 WIB malam,” ujar nelayan tersebut.
Menurutnya, aktivitas itu berlangsung ketika kawasan pesisir mulai lengang. Kondisi tersebut diduga dimanfaatkan untuk meminimalkan perhatian para nelayan yang berada di sekitar pantai.
Kesaksian lain turut memperkuat adanya dugaan aktivitas mencurigakan tersebut.
Nelayan setempat mengaku pernah mendapati rekannya yang sedang mencari ikan di sekitar pesisir didatangi sejumlah orang yang tidak dikenal. Rekannya kemudian diminta meninggalkan lokasi dengan alasan kawasan tersebut sedang digunakan untuk suatu kegiatan.
Tak hanya diminta pergi, nelayan tersebut disebut menerima uang sebesar Rp300 ribu.
“Teman saya saat mukat ikan didatangi. Mereka bilang, kami sedang ada kerjaan, tolong pergi dari sini. Mereka juga memberikan uang Rp300 ribu,” ungkapnya.
Permintaan untuk meninggalkan lokasi tersebut, menurut kesaksiannya, terjadi bersamaan dengan dugaan keberadaan truk yang membawa pasir timah.
Meski demikian, nelayan tersebut mengaku tidak mengetahui secara pasti kapan aktivitas semacam itu kembali dilakukan.
Ia hanya menyebut kondisi cuaca dan gelombang laut menjadi salah satu faktor yang diduga memengaruhi aktivitas kapal di kawasan perairan tersebut.
“Kalau kalian mau memantau, coba datang saat musim barat. Saat itu angin teduh. Kalau sekarang gelombang besar, pasti mereka tidak berani menyelundup,” katanya.
















