Sekilasindonews.com Lebak — Di usianya yang sudah menginjak 42 tahun, Pitriyani, seorang ibu rumah tangga asal Kampung Ciseke, Kabupaten Lebak, Banten, harus bertaruh nyawa dengan penyakit yang dideritanya, yaitu gagal ginjal. Penyakit ini membuat Pitriyani harus menjalani proses cuci darah dua kali seminggu. Dan penyakit ini sudah dideritanya selama empat tahun berjalan.
Rasa takut dan khawatir pun dirasakan Pitriyani dan keluarganya. Saran dari anggota keluarga pun sempat ditolaknya, karena rasa takut. Takut akan proses pengobatan serta pembiayaannya.
“Katanya (dokter), ‘Ibu, ini ginjalnya sudah parah, harus cuci darah’. Saya tidak mau karena saya takut. Saya nggak tahu cuci darah itu apa,” kata dia.
Salah satu momen menegangkan yang dialami keluarga adalah saat Pitriyani pingsan. Sejumlah anggota keluarganya segera membawa dia ke rumah sakit terdekat. Tekanan darah yang sangat rendah membuat Pitriyani harus segera ditangani di ruang gawat darurat atau ICU.
“Saya tidak tahu kalau saya drop. Tiba-tiba sudah ada di rumah sakit,” kenang dia.
Penanganan yang cepat dan sigap dari petugas rumah sakit membawa kelegaan bagi Pitriyani dan anggota keluarga. Dari pengalaman pingsan itu, Pitriyani yakin untuk menjalani proses pengobatan.
Empat tahun sudah Pitriyani menjalani proses cuci darah. Semua pengobatan itu bebas biaya berkat asuransi BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI). Sebagai pasien peserta asuransi dari pemerintah, Pitriyani juga merasa tak dibeda-bedakan. Petugas rumah sakit tetap cepat dan sigap menangani Pitriyani.
“(Pelayanannya) ya, baik. Ramah dan bagus. Dan, langsung ditangani oleh petugas,” ujarnya.














