“Setiap banjir, yang datang hanya imbauan. Tapi tanggul belum ada, drainase tetap kecil, air tetap masuk rumah,” keluh seorang warga.
Kondisi lingkungan pesisir Belo Laut juga dinilai semakin rentan. Sistem drainase yang terbatas, ditambah penurunan muka tanah dan abrasi pantai, membuat air laut dengan mudah meluap ke kawasan permukiman saat pasang tinggi terjadi.
Tak hanya merendam rumah, banjir rob juga memunculkan ancaman lain. Sejumlah warga mengaku menemukan ular masuk ke dalam rumah saat air laut naik. Keberadaan satwa liar ini menambah rasa cemas warga, terutama bagi keluarga yang memiliki anak kecil.
“Air laut masuk, hewan juga ikut naik. Kemarin ada ular di dalam rumah warga. Ini sudah sangat berbahaya,” ujar seorang nelayan setempat.
Hingga kini, penanganan banjir rob di Desa Belo Laut masih didominasi langkah-langkah reaktif, seperti pemantauan pasang surut dan imbauan kepada warga agar waspada.
Sementara itu, pembangunan infrastruktur pengendalian banjir rob, seperti tanggul pantai dan sistem drainase terpadu, belum terealisasi secara optimal.
Warga pun mulai mempertanyakan arah kebijakan penanganan banjir rob yang dinilai berulang tanpa solusi konkret.
“Kalau setiap tahun begini, sampai kapan kami harus bertahan? Ini bukan lagi soal basah atau kering, tapi soal keselamatan dan masa depan,” ujar seorang warga.
Banjir rob yang kembali mengepung Desa Belo Laut menjadi pengingat bahwa persoalan pesisir bukan sekadar masalah cuaca musiman.
Tanpa perencanaan tata ruang yang berpihak pada lingkungan dan perlindungan warga, banjir rob akan terus datang sebagai ancaman yang kian menormalisasi penderitaan masyarakat pesisir.
Bagi warga Belo Laut, air laut yang masuk ke rumah bukan hanya genangan, tetapi simbol dari kebijakan yang tak kunjung berpihak. Selama solusi masih berputar di tingkat imbauan, banjir rob akan terus hadir, bukan sebagai kejutan, melainkan sebagai tamu lama yang tak pernah diundang. (*)
















