Untuk sementara, kebutuhan konsumsi pengungsi masih mengandalkan dapur umum yang disiapkan di lokasi pengungsian.
“Jadi saat ini masih mengandalkan dapur umum. Kami berharap pengungsi juga bisa mendapatkan perlengkapan memasak, seperti kompor, gas, piring, dan lainnya,” kata Riza.
Ia pun meminta para calon donatur untuk berkoordinasi terlebih dahulu dengan aparat desa setempat sebelum menyalurkan bantuan tambahan.
Langkah tersebut dinilai penting agar bantuan tidak terus menumpuk pada jenis barang yang sama, sementara kebutuhan lain yang lebih mendesak belum terpenuhi.
“Saya atas nama masyarakat Bangka Selatan, khususnya Dusun Serdang, Desa Jelutung II, mengucapkan ribuan terima kasih atas kepedulian ini,” ucap Riza
Di tengah upaya pemenuhan kebutuhan pengungsi, harapan untuk kembali memiliki tempat tinggal menjadi salah satu hal yang paling dibutuhkan para korban kebakaran Dusun Serdang.
Karno, salah seorang korban kebakaran yang ditemui di lokasi pengungsian, berharap bantuan berupa seng, kayu, dan paku dapat segera tersedia untuk membangun kembali rumahnya yang hangus terbakar.
Baginya, bertahan di pengungsian bukanlah pilihan yang bisa dijalani dalam jangka panjang. Ia ingin kembali menjalani kehidupan normal bersama keluarganya setelah kehilangan tempat tinggal akibat musibah tersebut.
“Kami tak mungkin terus bertahan di pengungsian, kehidupan harus berjalan normal,” ujarnya.
Karno juga menjelaskan alasan dirinya berharap mendapatkan bantuan seng untuk atap rumah. Menurutnya, kondisi lahan gambut di lokasi rumah yang terbakar membuat pemilihan material bangunan perlu diperhatikan.
“Mengapa seng, karena lokasi rumah yang terbakar berada di lahan gambut, jadi ketika bangunan bergoyang, seng aman, kalau asbes bisa retak bahkan pecah,” katanya. (*)














