“Kami berharap pihak yang memiliki izin tambang dapat menata aktivitasnya. Setidaknya ada batas yang jelas,” ujar Rusian.
Ia menyebut jarak aman beberapa ratus meter dari bibir pantai.
Namun persoalannya bukan sekadar jarak, melainkan komitmen untuk mematuhinya.
“Beberapa ratus meter dari bibir pantai seharusnya sudah menjadi batas aman,” tegasnya.
Di lapangan, perubahan mulai terlihat.
Speedboat dipindahkan. Kawasan perlahan ditata. Wajah pantai yang semrawut mulai kembali rapi. Namun, seperti luka yang baru dibersihkan, bekasnya belum sepenuhnya hilang.
Air masih keruh di beberapa titik. Sisa-sisa aktivitas masih tertinggal.
Bagi nelayan, ini bukan soal estetika. Ini soal keberlanjutan hidup.
Laut yang dulu mudah memberi, kini menuntut lebih banyak usaha. Perubahan itu datang perlahan, seiring aktivitas yang terus berlangsung tanpa pengawasan ketat.
Bagi masyarakat pesisir, speedboat bukan lagi sekadar alat. Ia menjadi penanda bahwa ada aktivitas besar yang berlangsung di luar pandangan, tetapi terasa dampaknya.
Di sisi lain, penataan kawasan membuka peluang baru.
Pantai yang lebih tertib memberi ruang bagi pengembangan wisata dan usaha kecil. Namun ada kesadaran yang mulai tumbuh: ekonomi yang berdiri di atas kerusakan tidak akan bertahan lama.
Pantai Pasir Kuning bukan hanya ruang ekonomi. Ia adalah ruang hidup menyimpan memori, tradisi, dan hubungan manusia dengan alam.
Ketika ruang itu terganggu, yang hilang bukan hanya keindahan, tetapi juga keseimbangan.
Langkah Camat Tempilang hari itu memang belum menyelesaikan semuanya. Namun satu hal yang pasti: penertiban telah dimulai.
Memulai dari hal yang selama ini dibiarkan. Memulai dari ruang yang terlalu lama longgar.
“Kita ingin kawasan ini tertata. Wisata berkembang, ekonomi berjalan, tetapi lingkungan tetap terjaga,” ujarnya.
Di Pantai Pasir Kuning, harapan itu kini diuji.
Menertibkan speedboat mungkin bisa selesai dalam hitungan hari. Tetapi menertibkan relasi antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan adalah pekerjaan panjang.
Kini, pantai itu berada di persimpangan.
Di satu sisi, ada upaya penataan yang mulai bergerak. Di sisi lain, ada praktik lama yang belum sepenuhnya hilang.
Pertanyaannya tersisa satu:
Apakah ini benar-benar awal perubahan, atau hanya riak kecil di permukaan laut yang masih menyimpan gelombang besar? (belva)
















