Firman mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah cukup baik dalam memitigasi risiko eksternal, terutama yang berasal dari fluktuasi nilai tukar.
“Jadi di tengah ketidakpastian yang terjadi, mereka (perusahaan) mestinya cukup bisa mitigasi,” lanjutnya.
Kendati demikian, Firman menegaskan bahwa Indonesia tetap perlu mewaspadai ketidakpastian global mengingat gejolak geopolitik berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan DEN.
Menurutnya, salah satu dampak gejolak global yang paling krusial dan perlu diantisipasi adalah kenaikan harga energi dunia, yang berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi.
“Dan ini perlu diantisipasi nanti di semester kedua, tapi saya kira pemerintah sudah mempersiapkan langkah-langkahnya. Kemudian di tengah ketidakpastian global ini saya kira confidence harus kita terus perkuat,” pungkas dia.
Herman Yakub.
















