“Untuk memastikan hak pendidikan tetap terpenuhi, kami dari Dindikbud Bangka Selatan juga membuka posko yang berlokasi di SD Negeri 7 Simpang Rimba. Kami menjamin hak pendidikan bagi anak-anak terdampak tetap berjalan dan menjadi prioritas sebagaimana mestinya,” jelas Anshori.
Ia mengatakan, penyesuaian sistem pembelajaran diperlukan dengan mempertimbangkan kondisi anak-anak pascakebakaran. Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar diharapkan tetap berjalan meski para siswa tengah menghadapi situasi sulit akibat kehilangan tempat tinggal dan harta benda.
“Anak-anak tetap menjalani aktivitas belajar, hanya saja sistemnya yang akan diubah,” ujarnya.
Dalam upaya mendukung pemulihan pendidikan, Dindikbud Bangka Selatan juga menggandeng Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI), serta Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI).
Keterlibatan organisasi profesi tersebut diharapkan dapat memberikan pendampingan pembelajaran, serta memberikan pendampingan psikososial untuk memulihkan trauma anak-anak atas insiden tersebut.
“Pendampingan psikososial ini kami siapkan agar para anak-anak terdampak ini dapat perlahan bangkit dari dampak emosional akibat musibah yang mereka alami,” ujarnya.
Dampak kebakaran di Dusun Serdang tidak hanya dirasakan para siswa, tetapi juga tenaga pendidik. Kepala Dindikbud Bangka Selatan, Anshori, mengungkapkan, empat tenaga pendidik turut menjadi korban setelah rumah mereka hangus dilalap api dalam peristiwa tersebut.
Keempatnya yakni Elsis dan Suryanto, yang merupakan guru berstatus aparatur sipil negara (ASN) di SDN 7 Simpang Rimba; Novi Tamala, guru di sekolah swasta KB Muhajirin; serta Yunada, pensiunan guru SDN 7 Simpang Rimba.
“Kalau Dindikbud, kurang lebih itu saja pelayanan yang kami berikan terhadap siswa terdampak. Selain siswa, ada empat orang tenaga pendidik yang juga menjadi korban kebakaran, yakni dua guru SDN 7 Simpang Rimba, satu guru swasta di KB Muhajirin, dan satu pensiunan guru SDN 7 Simpang Rimba,” pungkas Anshori.
Sebelumnya, kebakaran hebat yang melanda Dusun Serdang, Desa Jelutung II, pada Sabtu (10/10/2026) dilaporkan menghanguskan sedikitnya 305 rumah warga dan 50 bangunan sarang burung walet.
Bencana tersebut berdampak pada sekitar 450 kepala keluarga atau kurang lebih 1.800 jiwa. Total kerugian akibat kebakaran itu ditaksir mencapai sekitar Rp2 miliar. (*)














