Scroll untuk baca artikel
Pasang Iklan
BeritaKab. Bangka Barat

FOLU Goes To School dan Upaya Menjaga Kelekak dari Senyap Kepunahan

×

FOLU Goes To School dan Upaya Menjaga Kelekak dari Senyap Kepunahan

Sebarkan artikel ini
FOLU Goes To School dan Upaya Menjaga Kelekak dari Senyap Kepunahan

FOLU Goes To School dan Upaya Menjaga Kelekak dari Senyap Kepunahan

SEKILASINDONEWS.COM – Ratusan siswa SDN 09 Mendo Barat menjadi saksi upaya penyelamatan salah satu lanskap budaya terpenting di Bangka Belitung: kelekak, kebun warisan Melayu Bangka yang perlahan hilang tanpa suara.

Melalui program FOLU Goes To School 2025 yang digelar Yayasan Cakrawala Insan Sentosa (CIS) dalam kerja sama Indonesia-Norwegia FOLU NIC Tahap 2 & 3, generasi muda diperkenalkan kembali pada warisan ekologis yang kini berada di ambang kepunahan.

Dalam sesi pembelajaran interaktif, anak-anak diajak melihat langsung ragam flora-fauna dan struktur agroforestri kelekak kebun keluarga yang dulu menjadi sumber pangan, obat, kayu, hingga identitas masyarakat Bangka.

Banyak siswa baru menyadari bahwa pepohonan yang mereka anggap biasa ternyata bagian dari ekosistem yang jauh lebih besar.

“Aku pernah lihat pohon aren itu di belakang rumah nek!” seru seorang siswa kelas empat.

Suasana yang awalnya riuh berubah hening ketika fasilitator menampilkan citra udara kelekak yang kini hilang. Beberapa anak bahkan mengenali lokasi yang dulunya menjadi tempat mereka bermain.

Bagi mereka, hilangnya kelekak bukan teori. Itu perubahan nyata di halaman rumah sendiri.

Warisan Leluhur yang Mulai Tergusur

Dalam satu dekade terakhir, kelekak yang diwariskan turun-temurun perlahan tergusur. Sebagian hilang akibat tambang timah, sebagian berubah menjadi kebun sawit, dan sebagian dibiarkan mati karena dianggap tak lagi menguntungkan.

Program FOLU Goes To School hadir sebagai ruang menghidupkan kembali memori itu. Anak-anak tidak hanya belajar mengenali jenis tanaman, tetapi juga memahami fungsi ekologis kelekak serta filosofi “Kelak Kek Ikak”, pesan leluhur untuk menanam kembali setiap pohon yang ditebang.

Salah satu momen paling menyentuh terjadi saat siswa memegang bibit aren.

“Kalau aku tanam, jadi kebun aren punyaku?” tanya seorang anak polos.

“Dan kau jadi penjaga kelekak,” jawab fasilitator.

Di titik itulah edukasi berubah menjadi proses pewarisan nilai.

Kegiatan berlanjut dengan diskusi di Kelak Andre Zed. Para akademisi, peneliti, dan pemangku kebijakan mengurai akar persoalan: kelekak hilang terutama karena tak memberikan keuntungan ekonomi jangka pendek.

Beberapa pandangan penting yang mengemuka:

Dr. Dian Akbarni, M.Si

Pasang Iklan
Akses Terus Biar Update
Iduladha PWI Bangka Selatan Iduladha Pemkab Basel Iduladha DPRD Basel